Peran Mikroorganisme dalam pembentukan produk

Mikroorganisme mampu membentuk produk melalui metabolisme yang dilakukannya. Produk yang dihasilkan dapat merupakan hasil aktivitas tunggal atau merupakan bentuk suksesi atau tumbuh dan melakukan aktivitas bersama.

sebagai contoh Fermentasi tape melibatkan tiga organisme yaitu Amylomyces rouxii yang menghasilkan gula dari pati, diikuti Saccharomyces cervisiae yang mengubah gula menjadi alkohol dan Acetobacter aceti yang mengoksidasi alkohol menjadi asam shg terbentuk produk tape dan citarasanya oleh Hansenulla dan Endomycopsis fibuliger

Ada juga yang tunggal seperti Saccharomyces cerevisiae dalam pembuatan wine yang mengubah gula menjadi alkohol sehingga terbentuklah produk minuman

buatlah sebuah contoh peran mikroorganisme dalam pembentukan produk. mikroorganisme dapat tunggal atau bersama-sama atau suksesi. dan apa peran mikroorganisme tersebut terhadap produk yang dihasilkan.

Iklan

Tentang ptp2007

Nur Hidayat dosen di TIP, sebagai ketua Lab Bioindustri. Dalam organisasi profesi sebagai ketua IV PATPI Pusat dan sie Penerapan Teknologi PERMI Pusat. Penulis sejumlah Buku Teknologi Pangan.
Pos ini dipublikasikan di bakteri dan tag , . Tandai permalink.

118 Balasan ke Peran Mikroorganisme dalam pembentukan produk

  1. Penambahan bakteri tang penting dalam fermentasi, terutama fermentasi kakao yaitu bakteri Saccharomyces Cerevisiae, Lactobacillus Lactis dan Acetobacter Aceti dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan kimiawi substrat selama fermentasi karena perubahan ekologi mikroflora di dalamnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya penelitian jurnal dibawah ini :

    PENGARUH PENAMBAHAN INOKULUM CAMPURAN TERHADAP
    PERUBAHAN KIMIA DAN MIKROBIOLOGI
    SELAMA FERMENTASI COKLAT
    [Effect of the Addition of Mixed Inoculums on the Chemical and
    Microbiological Changes During Cocoa Fermentation]
    Jurnal Teknologi Industri dan Hasil Pertanian Volume 13, No. 2, September 2008

    Fermentasi pada kakao bertujuan untuk meniadakan daya hidup biji, kemudian menjadikannya selaput berdaging (pulp) yang mudah dihilangkan dari kulit biji serta memberikan waktu untuk terjadinya proses yang membentuk warna, rasa dan aroma. Sehingga fermentasi menetukan mutu dari produk akhir. Dimana penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penambahan inokulum yang terdiri dari Saccharomyces Cerevisiae, Acetobacter Aceti dan Lactobacillus Lactis pada proses fermentasi kakao terhadap ekologi pertumbuhan mikroba dan perubahan biokimiawi dalam pupl selama fermentasi. Pertumbuhan yeast, bakteri asam laktat dan bakteri asam asetat di dalam pulp berperan dalam perubahan biokimiawi selama fermentasi kakao.

    Pada awal 24 jam fermentasi yeast (khamir) mendominasi fermentasi. Saccharomyces Cerevisiae dan Candida Tropicalis merupakan dominan yeast selama fermentasi kakao hal ini dapat dilihat dari tingkat survival yang tinggi. Tetapi setelah 24 jam tingkat survivalnya menurun dan digantikan oleh pertumbuhan bakteri asam laktat. Jenis bakteri asam laktat Lactobacillus Cellobiosus
    dominan sampai 48jam. Kemudian saat pulp mulai mencair maka oksigen mengalir ke dalam kotak fermentasi, sehingga menyebabkan bakteri asam asetat mendominasi fermentasi dan memproduksi asam asetat. Acetobacter Pasteurianus merupakan golongan bakteri asam asetat yang paling lama bertahan hidup dibandingkan dengan Acetobacter Aceti yang aktif pada 24 jam pertama fermentasi.

    Dari hasil penelitian dapat diketahui apabila yeast mempunyai peran penting dalam fermentasi kakao dalam hal adalah dengan menghasilkan alkohol dalam kondisi oksigen yang terbatas dan kadar gula tinggi, yang selanjutnya alkohol dikonversi menjadi asam asetat. Penambahan inokulum yang terdiri dari Saccharomyces Cerevisiae, Lactobacillus Lactis dan Acetobacter Aceti mempengaruhi perubahan kimiawi substrat selama fermentasi karena perubahan ekologi mikroflora di dalamnya. Penambahan dengan inokulum campuran pada awal fermentasi mempercepat proses fermentasi pulp dan kematian biji. Penambahan inokulum secara bertahap menyebabkan kenaikan suhu dini dan mengakibatkan fermentasi kurang sempurna.
    sumber : http://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JTHP/article/viewFile/69/77
    AULIA BAYU YUSHILA
    125100318113016
    KELAS UB KAMPUS IV KEDIRI

  2. Himamy Ainun S 115100701111009 Bioind kelas S

    Produk Mammalia Dari Hasil Rekayasa Genetika Mikroorganisme

    Meskipun sebagian besar produk mikroorganisme dihasilkan dari bioteknologi mikroorganisme tradisional, saat ini sejumlah produk dapat dibuat melalui mikroorganisme yang direkayasa genetiknya. Perhatian terbesar ditujukan pada produksi protein dan peptida mamalia melalui penggunaan mikroorganisme karena beberapa bahan obat-obatan yang bernilai tinggi, dan mahal, juga sulit dihasilkan dengan metode lain. Jika gen yang mengkode untuk produksi protein
    mamalia dapat diklon ke dalam suatu mikroorganisme, dan diperoleh ekspresi yang baik dari gen tersebut, maka proses bioteknologi untuk membuat protein tersebut dapat dengan mudah dikembangkan. Meskipun rekayasa genetik dalam bioteknologi termasuk hal yang sangat menjanjikan, memperoleh suatu produk untuk pemasaran merupakan suatu usaha yang sangat sulit. Selain itu masalah juga terdapat pada kloning dan ekspresi gen yang menarik dalam suatu mikroorganisme. , umumnya bakteri dan fungi, dan pemurnian produk yang diharapkan, persoalan yang berhubungan misalnya percobaan secara klinik dan persetujuan pemerintah harus dipertimbangkan. Beberapa produk hasil sintesis mikroorganisme dengan tujuan untuk digunakan oleh manusia harus dicobakan secara luas dalam klinik. Sebagai contoh insulin manusia diperoleh melalui teknologi DNA rekombinan, harus melalui percobaan klinik dengan manusia sukarelawan, meskipun pada kenyataannya insulin tersebut identik dengan protein yang dibuat dalam tubuh manusia. Informasi lebih lanjut dapat diunduh pada link berikut : https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&cad=rja&ved=0CFQQFjAE&url=http%3A%2F%2Ffile.upi.edu%2FDirektori%2FFPMIPA%2FJUR._PEND._BIOLOGI%2F196805091994031-KUSNADI%2FBUKU_COMMON_TEXT_MIKROBIOLOGI%2C_Kusnadi%2Cdkk%2FBAB_XIII_MIKRO_INDUSTRI.pdf&ei=cYZjUrGoBsiHrQe2jICoDg&usg=AFQjCNHvdv0E2alQNrbdnqmD6On3yU0bhg&sig2=1q175IkoMUlwvQoxlZkcKw&bvm=bv.54934254,d.bmk

    • RIZKY AKBAR AMIN/125100301111085/TIP UB/KELAS_S berkata:

      Streptococcus thermophillus dan Lactobacillusbulgarius dalam pembuatan soyghurt. Soyghurt adalah produk fermentasi susukedelai dengan menggunakan bakteri
      Streptococcus thermophillus,dan Lactobacillusbulgarius. Seperti bahan bakunya yaitu susukedelai,soyghurt memiliki beberapa kelebihan,antara lain bebas laktosa, bebas kolesterol,mengandung lemak yang rendah, dan memiliki protein yang tinggi. Oleh karena itu,soyghurt cocok dikonsumsi oleh yang melakukan programdiet.Soyghurt
      juga dapat membantu pencernaan,mencegah diare, dan mencegah peningkatankadar kolesterol darah yang terlalu tinggi. Peranan Streptococcus thermophillus dan Lactobacillusbulgarius adalah sebagai agen fermentasi pembentuk asam laktat pada susu kedelai.
      Sumber: http://www.academia.edu/3508688/PENGARUH_WAKTU_SIMPAN_TERHADAP_KUALITAS_SOYGHURT_DENGAN_PENAMBAHAN_SUSU_BUBUK

  3. HANIFAH KOESENGGAWATI berkata:

    Nama : Hanifah Koesenggawati
    NIM : 125100307111007
    KELAS : C

    Antibiotik biasanya digunakan untuk melawan serangan bakteri termasuk bakteri Escherichia coli atau E.coli. Peneliti dari Tufts University School of Engineering untuk pertama kalinya berhasil membuat antibiotik erythromycin A dan dua variasi antibiotik dengan sumber bakteri E.coli.

    Menjadikan E.coli sebagai bahan sumber antibiotik menawarkan cara dengan biaya yang lebih efektif untuk membuat erythromycin A dan obat baru yang akan memerangi kejadian pertumbuhan patogen resisten (kebal) antibiotik. Sama pentingnya, teknik produksi platform E.coli ini menawarkan banyak kesempatan bagi generasi mendatang dan produk alam lainnya dengan jalur biosintesis kompleks.

    Eritromisin A adalah senjata ampuh dalam pengobatan infeksi bakteri. Bakteri Saccharopolyspora erythraea yang ditemukan di dalam tanah, secara alami menghasilkan beberapa varian eritromisin.

  4. yustus berkata:

    Yustus Yekusamon
    115100306111003
    Bioin kls N
    Fermentasi
    Fermentasi yang melibatkan dua jenis mikroorganisme,yaitu organism sejenis jamur dan bakteri,kehadiran kedua organism tersebut,sehinga memperoleh keistimewaan produk the combucha.
    Mikroorganisme jamur yang berperan dalam pembentukan the kombucha termasuk golongan ragi ( yeast ). Nama ilmianya adalah Saccharomyces cerevisiae.Ragi ini menghasilkan sumber vitamin B Kompleks,thiamin,dan berbagai jenis antibiotic dan hormone steroid. Jenis ragi lainnya yang dilibatkan dalam pembuatan teh kombucha yaitu saccharomyces ludwigii,S.apiculatus varietas,dan Schizosac-charomycespombe.
    Mikroorganisme Bakteri yang berperan dalam proses pembuatan the kombucha, bersama-sama dengan ragi yaitu ada lima jenis bakteri antara lain,Acetobacter xylinum,xylinoides,gluconicum,Acetobacter ketagenum,pichia fermentans,dan Torula varietas. Dalam aktivitas fermentasi,bakteri-bakteri ini bersimbiosis dengan ragi untuk memproduksi zat-zat yang berguna bagi tubuh,seperti asam glukoronat; asam kondroitin sulfat; asam hyaluronic; vitamin B1,B6,B12,; serta beberapa enzim yang peranannya baik dalam tubuh manusia.Kedua jenis mikroorganisme ini hidup saling bergantung dan membentuk koloni.koloni jamur dan bakteri ini hidup bersisbiosis,maka sangat sulit bagi organism pathogen lain mengontaminasi kerja sama kedua jenis mikroorganisme ini.Koloni jamur dan bakteri ini disebut’koloni scoby’. Scoby singkatan dari simbiosis colony of bactery yeast.tumbuh pada lingkungan yang mengandung glukosa,misalnya larutan the manis,fungsi lalrutan ini adalah menyediakan energy ate makanan bagi koloni jamur-bakteri dalam melangsungkan kehidupanya.
    Pembentukan kombucha pertama kali dimulai dari proses fermentasi dengansedikit oksigen menghasilkan enzim yang menguraikan senyawa gula menjadi alcohol( etanol) dan gas karbondioksida. Namun pada proses ini tidak menghasilkan etanol,tetapi karbondioksida dan air. Ragi ate khamir memulai aktivitasnya memecah fruktosa dansukrosa (gula) denganbantuan enzim ekstaseluler sehingga tidak menjadi glukosa.Hasilnya adalah alkohon dangas korbondioksia. Kemudian ini akan bereaksi dengan air membentuk senyawa asam karbonat. Setelah melakukan aktivitas bakteri dan jamur akan berkumpul dalam cairan tersebut pada selulosa yang terbentuk berupa lapisan kenyal berwarna putih. Lapisan ini merupakan agen kombucha yang bisa dimanfaatkan lagi pada proses pembentukan kombucha berikutnya.proses terbentuknya the kombucha memakan waktu 7-12 hari,jika melewati jangka waktu ini fermentasi larutan the gula akan menjadi asam cuka.Karena pada faktanya,banyak sekali organism yang terlibat dalam permentasi the kombucha yang serupa dengan organism yang digunakan dalam pembuatan asam cuka ( vinegar).

  5. Alam Surya Gemilang / NIM : 125100318113038 / TIP UB kampus IV Kediri berkata:

    Pemanfaatan mikroorganisme untuk membuat pupuk dari urine sapi

    Pada fermentasi urin sapi mengandung beberapa jenis mikroorganisme, yaitu:
    A. Bakteri Fotosintetik
    Bakteri fotosintetik adalah mikroorganisme yang mandiri. Bakteri ini membentuk senyawa-senyawa yang bermanfaat dari sekresi akar tumbuh-tumbuhan, bahan organik dan/atau gas-gas berbahaya seperti hidrogen sulfida, dengan dibantu sinar matahari dan panas sebagai sumber energi. Zat-zat bermanfaat tersebut meliputi asam amino, asam nukleat, zat-zat bioaktif, dan gula, yang semuanya dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
    Hasil-hasil metabolisme yang dihasilkan oleh bakteri ini dapat diserap langsung oleh tanaman dan juga berfungsi sebagai substrat bagi mikroorganisme lain sehingga jumlahnya terus dapat bertambah.
    B. Bakteri Asam Laktat
    Bakteri asam laktat menghasilkan asam laktat dari gula, dan karbohidrat lain yang dihasilkan oleh bakteri fotosintetik dan ragi. Bakteri asam laktat dapat menghancurkan bahan-bahan organik seperti lignin dan selulosa, serta memfermentasikannya tanpa menimbulkan senyawa-senyawa beracun yang ditimbulkan dari pembusukan bahan organik.
    C. Ragi
    Ragi dapat menghasilkan senyawa-senyawa yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman dari asam amino dan gula di dalam tanah yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik atau bahan organik melalui proses fermentasi. Ragi juga menghasilkan senyawa bioaktif seperti hormon dan enzim.
    D. Actinomycetes
    Actinomycetes merupakan suatu kelompok mikroorganisme yang strukturnya merupakan bentuk antara dari bakteri dan jamur. Kelompok ini menghasilkan zat-zat anti mikroba dari asam amino yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik dan bahan organik. Zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme ini dapat menekan pertumbuhan jamur dan bakteri yang merugikan tanaman, tetapi dapat hidup berdampingan dengan bakteri fotosintetik. Dengan demikian kedua spesies ini sama-sama dapat meningkatkan kualitas lingkungan tanah dengan meningkatkan aktivitas anti mikroba tanah.
    E. Jamur Fermentasi
    Jamur fermentasi seperti Aspergillus dan Penicillium menguraikan bahan organik secara cepat untuk menghasilkan alkohol, ester, dan zat-zat anti mikroba. Pertumbuhan jamur ini berfungsi dalam menghilangkan bau dan mencegah serbuan serangga serta ulat-ulat yang merugikan dengan cara menghilangkan penyediaan makanannya.

    sumber:
    http://razytasanya.blogspot.com/2012/09/peranan-mikroorganisme-pada-fermentasi.html

  6. PEMANFAATAN MIKROORGANISME DALAM BIDANG PERTANIAN
    A. Biofertilizer pada Pertanian Organik
    Pertanian organik semakin berkembang dengan sejalan dengan timbulnya kesadaran akan petingnya menjaga kelestarian lingkungan dan kebutuhan bahan makanan yang relatif lebih sehat.dalam pertanian organik yang tidak meggunakan bahan kimia buatan seperti pupuk kimia buatan dan pestisida, biofertilizer atau pupuk hayati menjadi salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan. Beberapa mikroba tanah seperti Rhizobium, Azaosprillium, Azotobacter mikoriza perombak sellulosa dan efektif mikroorgnisme dapat dimanfaatkan sebagai biofertilizer pada pertanian organik, biofertilizer tersebut fungsinya antara lain membantu penyediaan hara pada tanaman, mempermudah penyediaan hara bagi tanaman membantu dekomposisi bahan organik, meyediakan lingkungn rhizosfer sehingga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhan dan produksi peningkatan tanaman.

    1. Pemanfaatan Bakteri Rhizobium leguminosarum. sebagai biofertilizer
    Klasifikasi ilmiah Rhizobium leguminosarum
    Kingdom : Monera
    Kelas : Psilopsida
    Ordo : Psilotales
    Family : Psilotaceae
    Genus : Rhizobium
    Species : Rhizobium leguminosarum

    Bakteri Rhizobium bila bersimbiosis dengan tanaman legum, kelompok bakteri ini akan menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar di dalamnya. Akar tanaman tersebut menyediakan karbohidrat dan senyawa lain bagi bakteri melalui kemampuannya mengikat nitrogen bagi akar. Jika bakteri dipisahkan dari inangnya (akar), maka tidak dapat mengikat nitrogen sama sekali atau hanya dapat mengikat nitrogen sedikit sekali. Bintil-bintil akar melepaskan senyawa nitrogen organik ke dalam tanah tempat tanaman polong hidup. Dengan demikian terjadi penambahan nitrogen yang dapat menambah kesuburan tanah.

    2. Pemanfaatan Rhizobium dalam Produksi Pertanian Dilakukan Melalui:
    1. Pemeliharaan dan peningkatan kesuburan tanah dengan memanfaatkan mikrobia yang berperan dalam siklus Nitrogen (mikrobia penambat nitrogen, mikrobia amonifikasi, nitrifikasi, dan denitrifikasi), Fosfor (mikrobia pelarut fosfat), Sulfur (Mikrobia pengoksidasi sulfur), dan Logam-logam (Fe, Cu, Mn, dan Al),
    2. Pemeliharaan kesehatan tanah dengan memanfaatkan mikrobia penekan organisma pengganggu tanaman (OPT),
    3. Pemulihan kesehatan tanah dengan memanfaatkan mikrobia pendekomposisi / penyerap senyawa-senyawa toksik terhadap mahluk hidup (Bioremediasi),
    4. Pemacuan pertumbuhan tanaman dengan memanfaatkan mikrobia penghasil fitohormon.

    B. Biopeptisida pada pertanian organik
    Biopestisida adalah pestisida yang mengandung mikroorganisme seperti bakteri patogen, virus dan jamur. Pestisida biologi yang saat ini banyak dipakai adalah jenis insektisida biologi (mikroorganisme pengendali serangga) dan jenis fungisida biologi (mikroorganisme pengendali jamur). Jenis-jenis lain seperti bakterisida, nematisida dan herbisida biologi telah banyak diteliti, tetapi belum banyak dipakai.

    Beberapa bakteri sekarang telah dikembangkan menjadi biopestisida. Secara ekologi, penggunaan biopestisida ini sangat menguntungkan jika dibandingkan dengan penggunaan pestisida. Hal ini dikarenakan adanya efek residu pestisida terhadap lingkungan terlasuk manusia. Bakteri-bakteri tertentu dapat menghasilkan endotoksin yang dapat meracuni serangga hama tanaman tertentu. Sebagai contoh, di Amerika telah dikembangkan bakteri yang potensial menjadi biopestisida pada skala komersial, antara lain adalah Bacillus popilliae dengan merk dagang Doom or Japidemik, Bacillus thuringiensis dengan merk dagang Dipel, Thuricide, dan Agritol. Di Canada, pada tahun 1980 penggunaan Bacillus thuringiensis sebagai biopestisida mencapai 4%, dan meningkat menjadi 63 % pada tahun 1990. Endotoksin yang dihasilkan oleh Bacillus thuringiensis aktif mematikan sebagian besar serangga yang termasuk dalam kelas Lepidoptera, Diptera, dan Coleoptera.

    1. Pemanfaatan Bakteri Bacillus thuringiensis sebagai biopeptisida
    Klasifikasi ilmiah Bacillus thuringiensis
    Kerajaan : Eubacteria
    Filum : Firmicutes
    Kelas : Bacilli
    Ordo : Bacillales
    Famili : Bacillaceae
    Genus : Bacillus
    Spesies : Bacillus thuringiensis

    B. thuringiensis adalah bakteri yang menghasilkan kristal protein yang bersifat membunuh serangga (insektisidal) sewaktu mengalami proses sporulasinya. Kristal protein yang bersifat insektisidal ini sering disebut dengan σ- endotoksin. Kristal ini sebenarnya hanya merupakan protoksin yang jika larut dalam usus serangga akan berubah menjadi poli-peptida yang lebih pendek (27- 149 kd) serta mempunyai sifat insektisi-dal. Pada umumnya kristal Bt di alam bersifat protoksin, karena ada-nya aktivitas proteolisis dalam sistem pencernaan serangga dapat mengubah Bt-protoksin menjadi polipeptida yang lebih pendek dan bersifat toksin. Toksin yang telah aktif berinteraksi dengan sel-sel epithelium di midgut serangga. Bukti-bukti telah menunjukkan bahwa toksin Bt ini menyebabkan terbentuknya pori-pori (lubang yang sangat kecil) di sel membrane di saluran pencernaan dan mengganggu keseimbangan osmotik dari sel –sel tersebut. Karena keseimbangan osmotik terganggu, sel menjadi bengkak dan pecah dan menyebabkan matinya serangga.

    2. Pemanfaatan Bacillus thuringiensis dalam Pertanian:
    1. Bacillus thuringiensis varietas tenebrionis menyerang kumbang kentang colorado dan larva kumbang daun.
    2. Bacillus thuringiensis varietas kurstaki menyerang berbagai jenis ulat tanaman pertanian.n
    3. Bacillus thuringiensis varietas israelensis menyerang nyamuk dan lalat hitam.
    4. Bacillus thuringiensis varietas aizawai menyerang larva ngengat dan berbagai ulat, terutama ulat ngengat diamondback.

    C. Agen Biokontrol Pada pertanian Organik
    Agen biokontrol ialah suatu mikroorganisme yang digunakan untuk menekan populasi serangga hama serendah mungkin hingga dapat mencegah kerugian yang di timbulkan tanpa mengganggu keseimbangan ekologis yang ada. Biokontrol dapat bersifat antagonis atau bahkan sebagai parasit.
    Ditemukannya penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh jamur Fusarium sp. merupakan salah satu kendala yang dihadapi oleh para petani saat ini, jamur ini banyak menyerang tanaman kentang, pisang, tomat, ubi jalar, strawberry dan bawang daun. Penyakit layu fusarium adalah penyakit sistemik yang menyerang tanaman mulai dari perakaran sampai titik tumbuh. Salah satu alternatif untuk menanggulangi hal tersebut yaitu dengan pengendalian untuk menekan populasi jamur Fusarium dengan mengembangkan pengendalian secara hayati.
    1. Pemanfaatan Bakteri Pseudomonas fluorescens Sebagai Agen Biokontrol Pada Pertanian Organik
    Klasifikasi ilmiah Pseudomonas fluorescens
    Kingdom : Bacteria
    Filum : Proteobacteria
    Kelas : Gamma Proteobacteria
    Ordo : Pseudomonadales
    Famili : Pseudomonadaceae
    Genus : Pseudomonas
    Species : P. fluorescens

    Pemanfaatan rhizobakteria di Jawa Barat dikembangkan sebagai biofungisida khususnya antara lain: Bacillus subtilis, Bacillus polymyxa, Bacillus thuringiensis, Bacillus pantotkenticus , Burkholderia cepacia dan Pseudomonas fluorescens.
    Bakteri Pseudomonas fluorescens merupakan bakteri gram negative yang berbentuk batang yang menghuni tanah, tanaman dan air, bakteri ini dapat mengeluarkan senyawa antibiotik (antifungal), siderofor, dan metabolit sekunder lainnya yang sifatnya dapat menghambat aktivitas jamur Fusarium oxysporum. Senyawa siderofor, seperti pyoverdin atau pseudobacin diproduksi pada kondisi lingkungan tumbuh yang miskin ion Fe. Senyawa ini menghelat ion Fe sehingga tidak tersedia bagi mikroorganisme lain. Ion Fe sangat diperlukan oleh spora F. oxysporum untuk berkecambah. Dengan tidak tersedianya ion Fe maka infeksi F. oxysporum ke tanaman berkurang. Sementara senyawa antibiotik yang dihasilkan antara lain : phenazine-1-carboxylate, pyoluteorin, pyrrolnitrin, 2,4-diacetylphloroglucinol, phenazine-1-carboxyamide, pyocyanine, hidrogen cyanide dan viscosinamide. Produk yang telah dikomersialkan dari biofungisida antara lain: Bio-FOB, Bio-TRIBA, Mitol 20 EC dan Organo-TRIBA.

    2. Pemanfaatan bakteri pseudomonas fluorescens dalam produk pertanian dilakukan melalui:

    1. Pemberian Kultur Cair
    2. Pemberian zat aktif biofungisida nabati
    3. Pencampuran agen dalam proses pengomposan

  7. Yepi Adellya Fitri R, NIM : 125100307111018, biondustri kelas S berkata:

    Sampah organik dan limbah organik dapat memberi manfaat kepada manusia setelah terlebih dahulu dirobah menjadi pupuk organik oleh peranan bakteri menguntungkan bagi manusia. Bakteri saprofit berperanan menguraikan tumbuhan atau hewan yang mati, sisa-sisa atau kotoran organisme. Bakteri sahabat manusia (probiotik) tersebut menguraikan protein, karbohidrat dan senyawa organik lainnya.
    Penguraian dalam kondisi tanpa oksigen (anaerobik), material organik akan menjadi gas amoniak, hidrogen sulfida (H2S), methana (CH4) dan senyawa lain yang lebih sederhana. Sementara dalam kondisi cukup oksigen (aerobik), penguraian akan menghasilkan H2O dan CO2, serta senyawa lain dalam bentuk nutrisi. Oleh karenanya, keberadaan bakteri jenis saprofit ini, sangat berperan dalam mineralisasi di alam dan, dengan cara ini, bakteri membersihkan dunia dari sampah dan limbah organik. Tanpa kehadiran si jasad renik ini, niscaya bumi kita akan penuh oleh sampah organik dan limbah organik, yakni segala material yang berasal dari jasad mati, berdampingan dengan jasad hidup.
    Bakteri, agar dapat dikelola pemanfaatannya, dapat diisolat kemudian dibiakan di laboratorium serta kemudian disimpan dalam media, dengan ditambahkan nutrisi secukupnya, tergantung masa dorman yang diinginkan. Makin banyak sediaan nutrisinya, masa hidup bakteri dalam media ini akan lebih lama dibanding jika nutrisi terbatas. Salah satunya yang kini ada di pasaran adalah konsorsium aneka jenis bakteri, ragi dan fungi dalam aktivator Green Phoskko (GP-1), yang diketahui dan telah dirasakan bermanfaat membantu manusia dalam peranannya sebagai pengurai (dekomposer) sampah dan segala material organik. Konsorsium mikroba probiotik (sahabat manusia) ini disajikan dalam bentuk tepung ( powder), dikemas dalam pack per 250 gram, sehingga bisa dimobilisasi atau dibawa dengan mudah. Berisi bakteri aktinomycetes- spesies aktinomyces naeslundii, Lactobacillus spesies delbrueckii, Bacillus Brevis, Saccharomyces Cerevisiae, Cellulolytic Bacillus Sp, ragi, dan jamur dengan populasi 10 pangkat 7 per gram Cfu. Konsorsium bakteri, dalam aktivator bagi pembuatan pupuk organik ini, tergolong mesofilik hingga termofilik, artinya hidup optimal pd suhu 30 sd 55 serta 60 sd 80 derajat Celcius.
    Mikroba pengurai, atau dekomposer ini berfungsi melapukan atau mendekomposisi sampah organik dan bahan organik (limbah kota, pertanian, peternakan, tinja, urine, sisa makanan, dan material organik lainnya). Pada kondisi kelembaban, suhu, porositas dan aerasi yang sesuai dengan kebutuhannya, bakteri ini akan bekerja terus menerus tanpa henti, atau akan mendekomposisi material organik dengan cepat. Misal, pada penggunaan dalam penguraian bahan organik (pengomposan) didalam komposter atau skala alat rotary kiln, 5 hari bisa menyelesaikan tugasnya mengurai aneka bahan organik tersebut.
    http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2012/01/06/peran-mikroorganisme-dalam-pembusukan-sampah-organik/

  8. Nama : Iqlima Mirza Munfaridha
    NIM : 125100318113011
    TIP UB Kampus IV

    MIKROORGANISME YANG BERPERAN DALAM PEMBENTUKAN MAKANAN DAN MINUMAN

    Mikroba untuk Makanan dan Minuman
    Mikroba yang ada di sekeliling kita mempunyai manfaat yang sangat besar, salah satunya untuk pengolahan makanan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis mikroba yang bermanfaat untuk pengolahan makanan, yaitu:

    a. Mikroba jenis bakteri:
    1. Lactobacillus
    Bakteri ini dikenal juga dengan nama bakteri laktat terdiri dari delapan jenis yang mempunyai manfaat berbeda-beda. Diantara jenis bakteri lactobacillus yang paling dikenal adalah Yoghurt
    Lactobacillus bulgaricus dan Lactobacillus sp.
    Lactobacillus bulgaricus merupakan salah satu bakteri yang berperan penting dalam pembuatan yoghurt. Yoghurt merupakan hasil olahan fermentasi dari susu. Bakteri ini hidup di dalam susu dan mengeluarkan asam laktat yang dapat mengawetkan susu dan mengurai gula susu sehingga orang yang tidak tahan dengan susu murni dapat mengonsumsi yoghurt tanpa khawatir akan menimbulkan masalah kesehatan.Sedangkan Lactobacillus sp. biasanya digunakan untuk pembuatan terasi. Terasi biasanya terbuat dari udang kecil (rebon), ikan kecil ataupun teri. Proses pembuatan terasi dilakukan secara fermentasi. Rebon yang telah kering ditumbuk dan dicampur dengan bahan lain kemudian diperam selama 3-4 minggu. Selama fermentasi, protein diekstrak menjadi turunan-turunanya seperti pepton, peptida dan asam amino. Fermentasi juga menghasilkan amonia yang menyebabkan terasi berbau merangsang.
    Kefir
    Ada beberapa jenis lactobacillus yang juga berperan dalam pembuatan kefir. Bakteri yang berperan antara lain: Lactocococcus lactis, Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus kefir, Lactobacillus kefirgranum, Lactobacillus parakefir. Semua bakteri tadi merupakan bibit kefir dan berfungsi sebagai penghasil asam laktat dari laktosa. Sedangkan Lactobacillus kefiranofaciens berperan sebagai pembentuk lendir (matriks butiran kefir).
    2. Streptococcus
    Jenis bakteri streptococcus yang biasanya digunakan dalam makanan adalah Streptococcus lactis. Bakteri ini berperan dalam pembuatan mentega, keju dan yoghurt. Pada pembuatan yoghurt, bakteri streptococcus bekerjasama dengan bakteri lactobacillus. Bakteri lactobacillus berperan dalam pembentukan aroma yoghurt, sedangkan bakteri Streptococcus lactis berperan dalam pembentukan rasa yoghurt.
    Streptococcus lactis
    Pada pembuatan mentega dan keju, bakteri Streptococcus lactis diperlukan untuk menghasilkan asam laktat. Pada pembuatan keju, asam laktat dapat menghasilkan gumpalan susu berbentuk seperti tahu. Gumpalan ini kemudian dipadatkan dan diberi garam. Garam berfungsi untuk mempercepat proses pengeringan, penambah rasa dan pengawet. keju diperam untuk dimatangkan selama sekitar 4 minggu. Selama proses pemeraman inilah, citarasa dan tekstur dari keju terbentuk.
    3. Pediococcus cerevisiae
    Bakteri Pediococcus sp. digunakan dalam pembuatan sosis. Tidak semua sosis dibuat melalui proses fermentasi. Sosis fermentasi dikenal dengan istilah dry sausage atau semi dry sausage. Contoh sosis jenis ini antara lain adalah Salami Sausage, Papperson Sausage, Genoa Sausage, Thurringer Sausage, Cervelat SausageChauzer Sausage.
    4. Acetobacter
    Jenis acetobacter yang terkenal perannya dalam pengolahan makanan adalah Acetobacter xylinum yang berperan dalam pembuatan nata de coco. Bakteri ini disebut juga dengan bibit nata. Bakteri akan membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah asam. Dalam kondisi tersebut, bakteri akan menghasilkan enzim yang dapat membentuk zat gula menjadi serat atau selulosa. Dari jutaan bakteri yang tumbuh pada air kelapa tersebut akan dihasilkan jutaan benang-benang selulosa yang akan memadat dan menjadi lembaran-lembaran putih yang disebut nata de coco.

    b. Mikroba jenis fungi
    1. Jamur Rhyzopus oryzae
    Jamur ini sangat berperan dalam pembuatan tempe. Tempe sendiri dapat dibuat dari kacang kedelai maupun bahan nabati lain yang berprotein. Pada tempe berbahan kedelai, jamur selain berfungsi untuk mengikat atau menyatukan biji kedelai juga menghasilkan berbagai enzim yang dapat meningkatkan nilai cerna saat dikonsumsi.
    2. Neurospora sitophila
    Jamur ini berperan dalam pembuatan oncom. Oncom dapat dibuat dari kacang tanah yang ditambahkan dengan bahan makanan lain seperti bungkil tahu. Bahan-bahan tersebut dapat menjadi oncom dengan bantuan jamur oncom. Proses yang terjadi dalam pembuatan oncom hampir sama dengan pembuatan tempe.
    3. Aspergillus wentii dan Aspergillus oryzae
    Jamur-jamur ini berperan dalam pembuatan kecap dan tauco. Kecap atau tauco dibuat dari kacang kedelai. Proses pembuatannya mengalami dua tahap fermentasi. Proses fermentasi pertama, yaitu adanya peran jamur Aspergillus wentii dan Aspergillus oryzae. Protein akan diubah menjadi bentuk protein terlarut, peptida, pepton dan asam-asam amino, sedangkan karbohidrat diubah oleh aktivitas enzim amilolitik menjadi gula reduksi. Proses fermentasi kedua menghasilkan kecap atau tauco yang merupakan aktivitas bateri Lactobacillus sp. Gula yang dihasilkan pada Kecap proses fermentasi diubah menjadi komponen asam amino yang menghasilkan rasa dan aroma khas kecap.

    2. Khamir
    Istilah khamir umumnya digunakan untuk menyebut bentuk-bentuk yang menyerupai jamur dari kelompok Ascomycetes yang tidak berfilamen tetapi uniseluler dengan bentuk ovoid atau spheroid. Khamir ada yang bermanfaat dan ada pula yang membahayakan manusia. Fermentasi khamir banyak digunakan dalam pembuatan roti, bir, wine. Khamir yang tidak diinginkana dalah yang ada pada makanan dan menyebabkan kerusakan pada uice buah, sirup, molase, madu, jelly, daging dan sebagainya.Ada berbagai khamir yang memiliki fungsi penting dalam fermentasi, diantaranya adalah :
    a. Saccharomyces cerevisiae, merupakan khamir yang paling popular dalam pengolahan makanan. Khamir ini telah lama digunakan dalam industry wine dan bir. Dalam bidang pangan, khamir digunakan dalam pengembangan adonan roti dan dikenal sebagai ragi roti. Khamir ini melakukan reproduksi vegetatif dengan membentuk tunas. Sel terbentuk ellipsoid atau silinder. Dapat membentuk pseudohifa tetapi hifa tidak bersepta. Askospora berbentuk ellipsoid pendek dengan dinding halus, biasanya 1-4, kadang-kadang lebih, per askos. Khamir ini tidak mampu tumbuh pada nitrat sebagai satu-satunya sumber nitrogen.
    b. Saccharomyces roxii, adalah khamir yang digunakan dalam pembuatan kecap dan berkontribusi dalam pembentukan aroma.

    3. Jamur
    Jamur merupakan mikroba multiseluler yang banyak dimanfaatkan manusia dalam fermentasi maupun budidaya. Dalam bidang fermentasi umumnya yang digunakan adalah jamur berbentuk hifa dan dikenal dengan sebutan jamur. Contohnya pada pembuatan tempe dan kecap.Ada beberapa jenis jamur yang memilki kedudukan penting dalam fermentasi, antara lain adalah :
    a. Aspergillus niger, jamur ini digunakan dalam pembuatan asam sitrat. Asam sitrat merupakan salah satu asam organik yang banyak digunakan dalam bidang pangan, misalnya pada pembuatan permen dan minuman kemasan. Jamur ini sering mengontaminasi makanan, misalnya roti tawar.
    b. Rhizopus oryzae, jamur ini penting pada pembuatan tempe. Aktivitas jamur ini menjadikan nutrisi pada tempe siap dikonsumsi manusia. Aktivitas enzim yang dihasilkan menjadikan protein terlarut meningkat.
    c. Neurospora sitophila, jamur ini merupakan sumber beta karoten pada fermentasi tradisional. Produk hasil fermentasi dari jamur ini adalah oncom.

    2.2 Peranan Mikroba dalam Produksi Makanan
    1. Buttermilk
    Buttermilk dihasilkan dari susu skim atau susu rendah lemak dengan bantuan bakteri asam laktat. Buttermilk mempunyai karakteristik pada tekstur, rasa asam dan aroma. Tekstur dihasilkan dari pemecahan dadih. Aroma dan rasa disebabkan oleh diasetil, asetildehid dan produk metabolik lain dilepaskan oleh bakteri fermentasi. Kultur yang digunakan untuk membuat buttermilk merupakan kultur asam laktat yang terdiri dari Streptococcus cremoris, S.diacetylactis, dan Leuconostoc cremoris. Jenis biakan bakteri pemula (starter culture) berbeda diantara pabrikan (manufaktur) dan beberapa menggunakan Lactobacillus bulgaricus untuk membuat butter milk Bulgaria. Produksi asam dan pembentukan dadih dihasilkan oleh Streptococcus cremoris sedangkan aroma dan rasa dihasilkan dari metabolisme dan multifikasi oleh dua jenis bakteri yang lain yaitu : S.diacetylactis, dan Leuconostoc cremoris.
    Untuk membuat buttermilk, susu skim atau susu rendah lemak dihomogenisasi dan dipasteurisasi serta diinokulasi dengan 1 % biakan pemula / strater culture dan difermentasikan pada suhu 18-200 C selama 14 jam. Sesudah fermentasi, produk yang dihasilkan digoyang dengan kuat untuk memecahkan dadih, didinginkan pada suhu 40 C dan dipak dalam kontainer susu. Produk akhir akan menampakkan homogenous, cairan yang kental, dengan rasa asam dan aroma buttery.
    2. Yogurt
    Yogurt adalah susu yang difermentasikan dengan mikroba Sterptococcus thermophilus dan Lactobacillus bulgaricus. Secara tradisonal susu dipanaskan selama beberapa jam untuk menguapkan air dan menaikkan proporsi susu cair. Sesudah penguapan susu didinginkan pada suhu 40-420 C dan diinokulasikan dengan kultur yogurt yang terdahulu. Sesudah inkubasi semalaman pada tempat yang hangat, kemudian produk didinginkan. Bakteri menghasilkan diasetil, asetaldehida dan berbagai produk metabolik lain yang memberi aroma karakteristik pada yogurt. Saat ini susu yang digunakan dikentalkan dengan penambahan susu bubuk (susu padat) kemudian dipasteurisasi. Pengental seperti gelatin atau karagenen juga dapat dapat ditambahkan.

    http://muhandriapriadi.blogdetik.com/2012/03/28/mikroorganisme-yang-berperan-dalam-pembentukan-makanan-dan-minuman/

  9. M.Rizki.payoga berkata:

    Bakteri asam laktat mempunyai peranan esensial hampir dalam semua
    proses fermentasi makanan dan minuman. Peran utama bakteri ini dalam industri
    makanan adalah untuk pengasam bahan mentah dengan memproduksi sebagian
    besar asam laktat (bakteri homofermentatif) atau asam laktat, asam asetat, etanol dan
    CO2 (bakteri heterofermentatif) (Desmazeaud, 1996). Bakteri asam laktat banyak
    digunakan dalam produk susu seperti yogurt, sour cream (susu asam), keju,
    mentega, dan produksi asam-asaman, serta asinan (Lindquist, 1998).
    Asam-asam organik dari produk fermentasi merupakan hasil hidrolisis asam
    lemak dan juga sebagai hasil aktivitas pertumbuhan bakteri. Penentuan kuantitatif
    asam organik pada produk fermentasi adalah penting untuk mempelajari kontribusi
    bagi aroma sebagian besar produk fermentasi, alasan gizi, dan sebagai indikator
    aktivitas bakteri (Bevilacqua & Califano, 1989). Asam-asam organik juga sering
    digunakan sebagai acidulants (bahan pengasam) yang dapat menurunkan pH.
    Sehingga pertumbuhan mikroba berbahaya pada produk fermentasi akan terhambat
    (Winarno, 1997). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola dan kemampuan dua isolat bakteri asam laktat, Lactobacillus casei dan Lactobacillus fersantum dalam membentuk asam organik menggunakan media buah durian. Hipotesis yang
    diajukan adalah (1) kedua isolat mampu membentuk beberapa jenis asam organik,
    dan (2) pembentukan asam organik oleh kedua isolat menunjukkan pola tertentu.
    Sebagai media fermentasi digunakan media ekstrak daging buah durian yang
    diinokulasikan dengan 2 jenis isolat bakteri asam laktat, kemudian diinkubasi
    selama 0, 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 hari fermentasi. Kadar dan jenis asam yang
    terbentuk selama fermentasi diukur dengan menggunakan High Performance Liquid
    Chromatography (HPLC). Data yang diperoleh dianalisis ragam dan uji lanjut
    polinomial ortogonal pada taraf 5%. Pola pembentukan asam organik didekati
    dengan analisis regresi.
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat L. casei mampu membentuk
    asam laktat, asam asetat, asam butirat, dan asam propionat, sedangkan isolat L.
    fersantum hanya membentuk asam laktat dan asam asetat
    Nama : M.Rizki.Prayoga
    Nim : 125100307111048
    Kelas : N

    JURNAL :
    http://scholar.google.co.id/scholar?q=PERAN+MIKROORGANISME+DALAM+PEMBENTUKAN+PRODUK&btnG=&hl=id&as_sdt=0%2C5

  10. Nama : PERIN DIANA EPRIDA
    NIM : 125100318113004
    KLAS : TIP UB KEDIRI
    Peranan Mikroorganisme Bidang Kesehatan
    Tidak hanya di bidang lingkungan dan pangan, bakteri juga dapat memberikan manfaat dibidang kesehatan. Antibiotik merupakan zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme dan mempunyai daya hambat terhadap kegiatan mikroorganisme lain dan senyawa ini banyak digunakan dalam menyembuhkan suatu penyakit. Beberapa bakteri yang menghasilkan antibiotik adalah:
    Streptomyces griseus, menghasilkan antibiotik streptomycin
    Streptomyces aureofaciens, menghasilkan antibiotik tetracycline
    Streptomyces venezuelae, menghasilkan antibiotik chloramphenicol
    Penicillium, menghasilkan antibiotik penisilin
    Bacillus polymyxa, menghasilkan antibiotik polymixin.
    Terlepas dari peranannya dalam menghasilkan antibiotik, banyak jenis bakteri yang justru bersifat patogen. Pada manusia, beberapa jenis bakteri yang sering kali menjadi agen penyebab penyakit adalah Salmonella enterica subspesies I serovar Typhi yang menyebabkan penyakit tifus, Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan penyakit TBC, dan Clostridium tetani yang menyebabkan penyakit tetanus. Bakteri patogen juga dapat menyerang hewan ternak, seperti Brucella abortus yang menyebabkan brucellosis pada sapi dan Bacillus anthracis yang menyebabkan antraks. Untuk infeksi pada tanaman yang umum dikenal adalah Xanthomonas oryzae yang menyerang pucuk batang padi dan Erwinia amylovora yang menyebabkan busuk pada buah-buahan.
    Umat manusia telah memanfaatkan mikroorganisme sejak lama untuk menghasilkan produk-produk yang bermanfaat. Misalnya, pada sekitar tahun 6000 SM masyarakat sumeria dan babilonia telah memanfaatkan yeast untuk membuat bir, sedangkan masyrakat mesir pada tahun 4000 SM telah menggunakan yeast untuk mengasamkan ropti. masyarakatBabilonia juga memilki pengetahuan untuk mengubah etanol dalam bir menjadi asam asetat(cuka).
    Produk alami yang disentesis oleh mikroorganisme menjadi sangat pnting. Praduk antikoagulan, antidepresan, vasodilator, her4bisida, insektisida, hormon tanaman, enzim, dan inhibitor enzim telah diisolasi dari mikroorganisme. Mikroorganisme lebih sering digunakan untuk menghasikan enzim seperti enzim amilase yang digunakan untuk membuat bir, roti, dan memperoduksi tekstil, serta enzim protease yang digunakan untuk mengempukkan daging, melunakkan kulit, membuat detergen dan keju.
    Industri makanan, minyak, kosmetik, dan farmasi juga menggunakan mikroorganismeuntuk menghasikan polisakarida. Xanthomonas campestris menghasilkan polisakarida yang dikenal sebagai santan untuk menstabilkan bahan makanan, sebagai agen pengikat untuk berbagai produk farmasi, serta untuk pewarnaan tekstil. Leuconostoc mesenteroides, bila ditumbuhkan pada media yang mengandung sukrosa akan memproduksi dekstran, suatu polisakarida yangb dapat digunakan sebagi saringan molekuler untuk memisahkan molekul dalam kromatografi kolom.
    Mikrobilogi farmasi modern berkembang setelah perang dunia ke 2 dengan dimulainyaproduk antibiotik. Suplay produk farmasi dunia termasuk antibiotik, steroid, vitamin, vaksin, asam amino, dan hormon manusia diproduksi dalam jumlah beasr oleh mikroorganisme. Streptomyces hydroscopius memilik strain yang berbeda untuk membuata hampir 200 antibiotik yang berbeda. Antibiotik pada dasarnya dibuata dalam skala industri dengan cara menginokulasi spora dari kapang atau streptomycetes dalam suatu media pertumbuhan dan menginkubasinya dengan aerasi yang baik. Setelah mencapai konsentrasi yang cukup, larut diekstraksi, dipresitipasi dan diperlukan dengan prosedur standar industri lainnya.
    1. Produk antibiotik
    Produksi antibiotik dilakukan dalam skala besar pada tangki fernentasi dengan ukuran besar. Sebagai contoh Penicillium chrysogenum ditumbuhkan dalam 100.000 liter fermentor selama kurang lebih 200 jam. Mula-mula suspensi spora P. chrysogenum ditumbuhkan dalam larutan media bernutrisi. Kultur diinkubasi selama 24 jam pada temperatur 24 °C dan selanjutnya ditransfer ke tangki inokulum. Tangki inokulum digojlok teratur untuk mendapatkan aerasi yang baik selama satu hingga dua hari.
    Pada proses produksi penisilin, media bernutrisi yang mengandung gula asam fenilasetat ditambahkan ke secara kontinu. Asam fenilasetat ini digunakan untuk membuat rantai samping benzil pada penisilin G. Penisilin G diekstraksi dari filtrat dan dikristalisasi. Untuk membuat penisilin semisintetik, penisilin G dicampur dengan bakteri yang mensekresi enzim asilase. Enzim ini akan melepas gugus benzil dari penisilin G dan mengubahnya menjadi 6-aminopebicillanic acid (6-APA). Aminopenicilanic acid adalah molekul yang digunakan untuk membuat penisilin jenis lain. Bebagai gugus kimia ditambahkan pada aminopenicillanic
    Hal yang serupa juga terjadi pada sefalosporin C yang diperoduksi oleh cephalosporium acremonium. Molekul sepalosporin C dapat ditranspormasi dengan melepas rantai samping α-aminodipic acid dan menambahkan gugus baru yang memiliki kisaran antibakteri yang lebih luas.
    Strain streptomyces griseus dan Actinomycetes lainnya menghasilkan streptomisin dan bebagai antibiotik lainnya. Spora S. Griseus diinokulasi kedalam media untuk mendapatkan kultur pertumbuhan dengan biomassa miselia yang tinggi sebelum dimasukkan kedalam tangki inokulum. Media dasar untuk praduksi streptomisin mengandung pati kedelai sebagai sumber nitrogen, glukosa sebagai sumber karbon, dan NaCl. Temperatur optimum untuk proses fermentasi ini berkisar pada 28°C, dengan kecepatan pengadukan dan aerasi yang tinggi diperlukan untuk mendapatkan produksi streptomisin yang maksimal. Proses fermentasi berlangsung sekitar 10 hari dengan jumlah streptomisinyang dipanen berkisar 1g/L.
    2. Produksi steroid
    Homon steroid sangat penting peranannya dalam dunia kesehatan. Misalnya kortison dan steroid lain yang serupadiketahui dapat digunakan untuk mengobati gejala yang berhubungan dengan alergi dan berbagai respons inflamasi oral dan untuk mengobati ketidak seimbangan homonal.
    Sintesis steroid seperti kotison memerlukan lebih dari 35 langkah, sehingga steroid sangat mahal untuk diperoduksi secara kimiawi. Misalnya, kortison dapat disintesis dari asam deoksikolat melalui 37 langkah, yang beberapa diantaranya memerlukan kondisi temperatur dan tekanan yang ektrem, dengan biaya berkisar lebih dari $ 200 pergram. Kesulitan utama pada sintesis kortison adalah introduksi atom oksigen pada cincin steroid nomor 11. Hal ini dapat diatasi dngan pemanfaatan mikroorganisme. Penggunaan mikroorganisme untuk mengganti proses kimiawi ini dikenal dengan istilah biokomversi.
    Fungi Rhizopuz arrhizus menghidroksilasi progesteron membentuk steroid koteksolon untuk membentuk hidrokortison dengan mengintroduksi oksigen pada posisi nomor 11.
    Bentuk tranformasi lain dari inti steroid dilakukan oleh mikroorganosme melalui proses hidrogenasi, dihidrogenasi, epoksidasi, dan penambahan serta penghilangan rantai samping. Penggunaan mikroorganismepada produksi kortison dapat menurunkan biaya produksi sebanyak 400 kali lipat, sehingga harga kotisondi amerika serikat kurang dari $50 pergram, dibandingkan harga aslinya yang sebesar $ 200.
    3. Produksi vaksin
    Penggunaan vaksin sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit. Pengembangan dan produksi vaksin merupakan salah satu tugas penting industri farmasi. Produksi vaksin meliputi pengkulturan mikroorganisme yang memiliki properti antigenikyang diperlukan untuk meluncurkan respons imun primer.
    Vaksin diproduksi oleh strain mutan patogen virulen tanpa menghilangkan antigen yang diperlukan untuk menimbulkan respons imun. Perkembangan bidang bioteknologi memungkinkan produksi seluruh seluruh vaksin baru. Beberapa vaksin baru ini ditujukan bagi target baru, dan beberapa lagi lebih efektif dan memiliki efek samping lebih sedikit dibandingkan vaksin tradisional yang ada saat ini.
    Untuk menghasilkan vaksin terhadap penyakit yang disebabkan oleh virus, strain virus ditumbuhkan dengan menggunakan telur ayam tertunas. Individu yang memiliki alergi terhadap telur ayam tidak dapat diberi vaksin yang dibuat dengan cara seperti ini. Vaksin virus juga dapat diproduksi melalui kultur jaringan. Misalnya, vaksin rabies tradisional diproduksi pada telur bebek tertunas dan memiliki efek samping yang sangat menyakitkan. Vaksin ini digantikan oleh produksi vaksin melalui kultur jaringan fibroblas manusia yang memiliki efek samping yang lebih sedikit.
    Produksi vaksin terhadapyang efektif dalam mencegah infeksioleh bakteri, fungi, dan protozoa melibatkan pertumbuhan strain mikroorganisme pada media artifisial yang meminimalkan gangguan beruparespons alergi.vaksin yng diproduksisecara komersial harus di uji dan distandardisasi terus sebelum digunakan, sehingga terjadi outbreak (wabah) penyakit akibat introduksi vaksin seperti yang pernah terjadi pada tahun 1976 akibat adanya vaksin swine influenza yang inadekuat dapat dihindari.
    4. Produksi vitamin dan asam amino
    Vitamin merupakan faktor nutrisi esensial bagi manusia. Beberapa vitamin dapat diproduksi melalui fermentasi mikroorganisme, dan digunakan sebagai suplemen makanan. Misalnya vitamin B12 dapat diproduksi sebagai produk samping pada fermentasi antibiotik oleh Streptomyces. Vitamn B12 juga diperoleh dari fermentasi Propionibacteriaum shermanii atau Paracoccus denitrificans.
    Riboflavin dapat dihasilkan dari fermentasi berbagai macam mikrooganisme, misalnya bakteri Clostridium dan fungi Eremothecium ashbyi atau Ashbya gossypii.
    Masalah utama produksi asam amino komersial melalui fermentasi mikroorganisme adalah adanya mekanisme alam kontrol pengaturan mikroorganisme yang membatasi jumlah asam amino yang dihasilkan dan dilepaskan dari sel. Masalah ini dapat diatasi dengan strain mikroorganisme yang direkayasa secara genetis sehingga tidak memiliki mekanisme kontrol seperti strain asli (wild type)
    Manusia memerlukan berbagai macam asam amino, termasuk lisin. Konsentrasi lisin dalam padi-padian tidak cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi manusia. Lisin diproduksi melalui fermentasi mikroorganisme, sehingga dapat digunakan sebagai suplemen makanan bagi manusia dan sebagai bahan tamabahan pada sereal. Metionin juga diproduksi melalui sintesis kimia dan digunakan sebagai suplemen makanan.
    Produksi lisin dari karbohidrat menggunakan Corynebactrerium glutamicum, suatu auksotrof yang memerlukan homoserin. Cane molasses umumnya digunakan sebagai substrat, dan pH dijaga agar tetap netral dengan menambahakan amonia atau urea. Pada saat gula dimetabolisme, lisin akan tetap terakumulasi pada media dan sintesis homoserin dihambat pada tahap homoserin dihidrogenase.
    Asam glutamat (glutamic acid) dimanfaatkan sebagai monosodium glutamat (MSG), bahan penyedap rasa makanan. Asam L-glutamat dan MSG dapat diproduksi melalui fermentasi strain Brevibacterium, Arthobacter dan Corynebacterium. Kultur corynebacterium glutamicum dan Brevibacterium flavum digunakan untuk memproduksi MSG dalam skala besar. Proses fermentasi memerlukan media glukosa-garam mineral dengan menambahkan urea secara periodik sebagai sumber nitrogen selama proses fermentasi. Nilai pH dijaga berkisar 6-8, dan temeratur 30°C
    5. Produksi asam organik
    Beberapa asam organik seperti asam asetat, asam glikonat, asam sitrat, asam giberelat, dan asam laktat dhasilkan melalui fermentasi mikroorganisme. Asam organik antara lain digunakan dalam industri makanan, miasalnya sebagai pengawet makanan.
    Asam glukonat diperoduksi olehberbagai bakteri termasuk spesies acetobaterdan oleh beberapa fungsi seperti penisilium dan aspergillus. Aspergillus neger mengoksidasi glkosa menjadi asam glukonat dalam reaksi enzimatik tunggal leh enzim glukosa oksidase. Asam glukonat memiliki berbagai kegunaan, antara lain:
    Kalsium glukonat digunakan sebagai produ farmasi untuk menyuplai kalsium dalam tubuh.
    Ferrous glukonate digunakan sebagai asupan besi untuk mengobati anemia.
    Asam glukonat pada detergen pencuci piring mencegah noda pada permukaan kaca akibat presipitasi garam kalsium dan magnesium
    Asam sitrat diproduksi oleh aspergillusniger dengan molases sebagai substrat fermentasinya. Asam sitrat digunakan sebagai bahan tambahan pada makanan, terutama minuman ringan. Transformasi asam sitrat oleh Aspergillus terreus dapat digunakan untuk memproduksi asam itokonat dalam dua langkah reaksi. Langkah pertama merupakan perubahan asam sitrat menjadi asam cis-akonitat melalui proses hidroksilasi, dan langkah kedua merupakan langkah karboksilasi asam cis-akonitat menjadi asam itakonat. Proses fermentasi ini memerlukan pH berkisar pada 2,2. Pada kisaran pH lebih tinggi, A. terreus akan mendegradasi asam itokonat.
    Asam giberelat (gibberellic acid) diproduksi oleh fungi Gibberella fujikuroi. proses fermentasinya memerlukan media glukosa-garam mineral, temperatur inkubasi berkisar pada 25°C dengan pH asam. Asam gibberelat dan homon tanaman giberelin lainnya dimanfaatkan untuk meningkatkan produktifitas pertanian, yaitu sebagai subtansi pendukung pertumbuhan tanaman, perbungaan dan germinasi biji, serta untuk menginduksi pembentukan buah tanpa biji.
    Asam laktat diproduksi oleh lactobasillus delbrueckii, spesies lactobasilus lainnya, streptococcus, dan leuconustoc. Asam laktat digunakan untuk mengawetkan makanan pada industri penyamkan kulit dan industri tekstil. Media yang digunakan dalam fermentasi asam laktat ini memerlukan glukosa 10-15%, kalsium karbonat 10% untuk menetralisasi asam laktat yang dihasilkan, amonium fosfat, dan sejumlah kecil sumber netrogen. Gula jagung, pati kentang dan gandum sering digunakan sebagai sumber karbohidrat. Temperatur inkubasi berkisar pada 45-50°C dengan pH berkisar antara 5,5-6,5. Setelah proses fermentasi selama 5-7 hari, kurang lebih 90% gula telah diubah menjadi asam laktat, kalsium karbonat selanjutnya ditambahkan untuk menaikkan pH hingga 10, kemudian media fermentasi dipanaskan dan disaring. Prosedur ini akan membunuh bakteri, mengkoagulasi protein, menghilangkan sisa kalsium karbonat, dan mendokoposisi residu karbohidrat.
    6. Produksi Enzim
    Enzim yang disolasi dari mikroorganisme dapat diaplikasikan pada berbagai macam industri. Misalnya, enzim proteose yang diisolasi dari bahan pembersih. Protease merusak dan melarutkan protein yang mengotori pakaian. Enzim yang dihasilkan untuk proses-proses industri meliputi protease , amilase, glikosa isomerase, glukosa oksidase, renin, pektinase, dan lipase.empat macam enzim yang secara luas diproduksi oleh mikroganisme adalah protease, glukamilase,α-amilase, dan glukosa isomerase.
    Protease adalah enzim yang menyerang ikatan peptida molekul protein dan membentuk fragmen-fragmen kecil peptida. Strain rekombinan Basillus sp. GX6644 mensekresikan alkalin protease yang sangat aktif terhadap protein kasein susu. Dengan aktifitas tertinggi pada pH 11 dan temperatur 40-55°C. Strain rekombinan yang lain yaitu Basillus sp. GX6638 mensekresi beberapa alkalin protease yang aktif pada kisaran pH yang cukup luas (8-12). Fungi yang mempreduksi protease adalah spesies Aspergillus. Protease yang dihasilkan oleh fungi memiliki kisaran pH yang lebih luas dibandingkan protease yang diperoduksioleh bakteri.
    Amilase digunakan dalam detergen dan dalam industri pembuatan bir. Ada beberapa tipe amilase, termasuk α-amilase yang digunakan untuk mengubah pati menjadi maltosa dan dekstrin, glukamilase yang mengubah pati menjadi glukosa. Ketiga enzim diatas digunakan untuk memproduksi sirup dan dekstrosa dari pati. Produksi amilase menggunakan fungi Aspergillus sp. Aspergillus oryzae yang digunakan untuk memproduksi amilase dari gandum pada kultur stasioner. Bacillus subtilis dan bacillus diastaticus digunakan untuk memproduksi amilase bakteri.
    Glukosa isomerase mengubah glukosa menjadi friktosa yang dua kali lebih manis dibandingkan sukrosa dan 1,5 kali lebih manis dibandingkan glukosa, sehingga fruktosa merupakan bahan pemanis yang sangat penting pada industrimakanan dan minuman. Enzim ini diproduksi oleh Bacillus coagulan, streptomyces sp. Dan Nocardia sp.
    Renin merupakan enzim penggumpal susu yang mengkatalisis koagulasi susu dalam industri pembuatan keju. Enzim ini diproduksi oleh Mucor pussilus.
    Enzim mikroorganisme juga digunakan dalan produksi polimer sintetik. Misalnya, industri plastik saat ini menggunakan metode kimia untuk mereduksi alkene oxidan yang digunakan untuk memproduksi plastik. Produksi alkene oxidan dari mikroorganisme melibatkan aksi tiga enzim yaitu piranose-2-oksidase dari fungi oudmansiella mucida, enzim haloperoksidase dari fungi Caldariomyces sp. Dn enzim epoxidase dari falvobacterium sp.
    Pada produksi enzim yang stabil terhadap panas, DNA polimerase sangat penting dalam proses amplifikasi DNA. Reaksi rantai polimerase sangat penting bagi diagnosis kesehatan, forensik, dan penelitian biologi mulekular. Kultur thermus aquacitus, dan mikroorganisme termofilik yang direkayasa secara genetis mengndung gen untuk taq DNA polimerase dari thermus aquaticus, digunakan untuk membuat DNA polimerase rekombinan yang stabil terhadap panas, yang disebut amplitaq.
    7. Produksi alkaloid ergot
    Alkaloid, beberapa diantaranya dapat dimanfaatkan dalam terapi, umumnya diperoleh dari tanaman, namun alkaloid ergot dihasilkan dari fungi. Alkaloid ergot pertama kali diperoleh dari sklerotium Ascomycetes, yaitu Claviceps purpurae. Istilah ergot digunakan untuk menunjukkan bahwa alkaloid jenis ini dihasilkan oleh fungi. Alkaloid ergot dibedakan menjadi 2 kelompok berdasarkan atas kandungan asam lisergat dan clavin. Alkaloid asam glisergat hanya diproduksi oleh genus Claviceps, sedangkan alkaloid clavin ditemukan pada genus Aspergillus, penicillium, dan Rhizobium. Alkaloid ergot digunakan untuk menstimulasi sistem syaraf simpatik. Beberapa alkaloid lisergat seperti halnya ergotamin dan ergobasin digunakan pada terapi kandungan yaitu untuk mengkontraksi uterus pada saat proses melahirkan untuk mengkontraksi uterus postpatu.
    8. Produksi protein manusia
    Adanya proses rekayasa genetik dengan pemanfaatan mikroorganisme meningkatan peran industri farmasi dlam memproduksi protein manusia. Melalui tehnik rekombinasi DNA, sekuens DNA manusia yang mengkode berbagai protein dapat digabungkan dengan genum bakteri, dan dengan menumbuhkan bakteri rekonbioanan dalam fermentor, maka protein manusi dapat diproduksi secara komersial.
    Insulin mutlak diperlukan oleh manusia. Insulin merupakan hormon polipeptida yang dihasikan oleh pulau-pulau langerhans dipankreas yang berfungsi mengatur metabolisme karbohidrat.dalam makanan dikomfersi menjadi glukosa monosakarida, karbohidrat pokok dalam darah. Beberapa karbohidrat seperti fruktosa dan selulosa dapat digunakan sebagai energi sel namun tidak dikomfersi menjadi glikosa dan tidak berpatisipai dalam mekanisme pengaturan metabolisme glukosa.
    Insulin dilepaskan oleh sel beta ( sel β ) pada pankreas sebagai respon naiknya kadar glukosa darah, pada saat setelah makan. Insulin memungkinkan sel-sel tubuh mengabsorbsi glukosa dari darah untuk digunakan sebagai sumber energi, diubah menjdi molekul lain yang diperlukan, atau untuk disimpan. Insulin juga merupakan sinyal kontrol utama konfersi glukosa menjdi glikogen untuk pennyimpanan internal dihati dan sel otot. Bila jumlah insulin yang tersedia tidak mencukupi, sel tidak merespon adanya insulin (tidak sensitif atau resisten insulin), atau bila insulin itu sendiri tidak produksi oleh sel-sel beta akibat risaknya sel-sel beta pada pankreas, maka glukosa tidak dapat dimanfaatkan oleh sel tubuh atau pun disimpan dalam bentuk cadangan makanan dalam hati maupaun sel otot. Akibat yang terjadi adalah peningkatan kadar glukosa dalam darah, penurunan sintesis protein, dan gangguan proses-proses metabolisme dalam tubuh.
    Insulin diperlukan bagi penderita diabetes melitus, suatu penyakit ganguan metabolisme kabohidrat, khususnya penderita diabetes millitus tipe 1 yang memerlukan asupan insulin eksogen. Pada mulannya, sumber insulin untuk penggunaan klinis pada manusi diperoleh dari pankreas sapi, kuda, babi, maupun ikan.insulinyang diperoleh dari sumber-sumber tersebut efektif bagi manusi karena identik dengan insulin manusia. Hanya terdapat perbedaan 3 asam amino antara insulin sapi dengan insulin manusia, dan hanya terdapat perbedaan sebesar 1 asam amino antara insulin babi dengan insulin manusia.
    Disebabkan mekanisme reaksi alergi yang timbul akibat mengguanakan insulin dari hewan ( sapi, babi, ikan, maupaun kuda) dalam jangka waktu lama khususnya penderita diabetes mellitus tipe 1, maka insulin dari manusia mulai diproduksi dengan menggunakan tehnik rekayasa genetik.
    Prusahaan farmasi Amerika serikat Eli Lilly, memasarkan produk insulin manusia yang pertama, Humulin pada tahun1982. DNA manusia yang mengkode insulin dipotong dan disisipkan kedalam fektor ( contohnya plasmid ) yang selanjutnya ditransformasi kedalam sel Escherichia coli sebagai inang. Sel inang tumbuh dan bereproduksi secara normal, dan karena terdapat DNA manusia yang disisipkan, maka sel inang tersebut otomatis akan menghasilkan insulinmanusia. Proses yang serupa juga dilakukan pada produksi interferon, hormon pertumbuhan manusia ( tumour necrosis factor, TNF) dan interleukin-2 ( IL-2 ). Hormon petumbuhan TNF digunakan untuk mengobati penyakit dwarfisme (cebol) akibat kekurangan hormon ini. IL-2, TNF dan IFN merupakan komponen penting respon imunitas alami manusia, dan produksinya terbukti berguna untuk mengobati berbagai penyakit. Misalnya IFN penting dalam pertahanan terhadap infeksi virus dan pengobatan akibat infeksi virus. TNF adalah substansi alami yang dihasilkan tubuh dalam jumlah kecil oleh sel darah putih tertentu yang disebut makrofag, berfungsi menbunuh beberapa sel kangker dan mikroorganisme infeksius tanpa mempengaruhi sel-sel nomal. Produk rekombiana lainnya adalah aktifator plasminogen jaringa ( alteplase) yang merupakn protein yang tersusun atas 527 asam amino yang digunakan untuk mengobati penderita serangan jantung.

  11. SYIFA' ROBBANI berkata:

    syifa’ robbani
    kelas c
    125100301111002
    Mikrobiologi perannya sangat baik untuk kebaikan manusia, contohnya
    pembuatan proses pembuatan asam cuka
    sumber: Rachmawati, F. N. Urifah, A. Wijayati. 2009. Biologi : untuk SMA/ MA Kelas XII, Program IPA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta, p. 172.
    perannya sangat vital, diantaranya menentukan kriteria kontrol pada fermentasi, mengendalikan proses fermentasi, menentukan keamanan produk
    sumber: file.upi.edu/Direktori/…/BAB_XIII_MIKRO_INDUSTRI.pdf

  12. Ari achniati berkata:

    ARI ACHNIATI
    115101001111020
    Peranan Mikroorganisme dalam Produksi Pangan
    a. Pengolahan Makanan Nonsusu
    Kedelai difermentasi oleh Rhizopus sp. Dan Xigospora sp. Menjadi tempe. Apabila kedelai difermentasi oleh Aspergilus wentil menjadi kecap sebagaimana yang kita kenal. Bungkil kacang akan menghasilkan jenis makanan yang berbeda bila difermentasi oleh mikroorganisme yang berbeda. Bila bungkil kadang difermentasi dengan Neurospora menjadi oncom merah dan bila difermentasi dengan Rhizopus sp. Menjadi oncom putih.
    b. Pengolahan Hasil Susu
    1) Keju
    Pembuatan keju merupakan salah satu fermentasi tertua. Dalam proses pembuatan keju, Terlebih dahulu dipanaskan pada temperatur 90ºC, kemudian didinginkan sampai temperature 39ºC. Kultur bakteri asam laktat kemudian diinokulasi (ditanam) kedalamnya. Aktivitas bakteri ini akan menurunkan pH dan mengakibatkan susu trepisah menjadi dadih padat dan cairan. Proses ini dinamakan pendadihan. Proses berikutnya yaitu penambahan enzim rennin untuk menggumpalkan dadih. Dadih yang terbentuk dipanaskan 32º – 42ºC sambil ditambah garam kemudian dadih ditekan untuk membuang air dan disimpan agar matang. Penyimpanan bertujuan agar mikroorganisme dan enzim bekerja menghasilkan cita rasa keju.
    2) Yoghurt
    Untuk memperoleh yoghurt, mikroorganisme yang digunakan adalah bakteri laktat yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermohillus. Untuk memperoleh hasil yang baik, kedua bakteri ini ditambahkan pada susu dengan perbandingan jumlah yang sama, kemudian disimpan pada suhu 95ºC selama 5 jam. Dalam penyimpanan ini, aktivitas bakteri menurunkan pH hingga 4,0. Setelah proses ini, susu didinginkan dan yoghurt siap dikonsumsi.
    3) Mentega
    Untuk pembuatan mentega, digunakan mikroorganisme Streptococcus lactis dan Leuconostoc cremois yang membantu proses pengasaman.
    Sumber:
    http://srisiswatytahir.blogspot.com/2013/05/bioteknologi-mengunakan-peranan_7591.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s