Peran penting bakteri dalam Bioindustri

Bakteri merupakan mikroorganisme prokariotik yang banyak peranannya dalam membantu kehidupan manusia. Peran bakteri dapat dilihat mulai perannya pada produk pangan seperti nata decoco, probiotik hingga perannya bagi lingkungan seperti Rhizobium pada perakaran leguminosa, juga Bacillus thuringiensis sebagai biopestisida.

guna memberikan tambahan informasi tentang banyaknya peran bakteri silahkan tuliskan satu spesies bakteri dan fungsinya sehingga bakteri tersebut dapat diproduksi atau ada kemungkinan diproduksi. dalam tulisan harus ditunjukkan link jurnal yang dijadikan acuan

contoh
Pemanfaatan Azotobacter vinelandii sebagai suplemen pada Pengolahan limbah cair yang minim kandungan nitrogennya.

sumber: Process Biochemistry Volume 38, Issue 1, September 2002, Pages 57–64. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0032959202000559

 

Iklan

Tentang ptp2007

Nur Hidayat dosen di TIP, sebagai ketua Lab Bioindustri. Dalam organisasi profesi sebagai ketua IV PATPI Pusat dan sie Penerapan Teknologi PERMI Pusat. Penulis sejumlah Buku Teknologi Pangan.
Pos ini dipublikasikan di bakteri dan tag , , , , . Tandai permalink.

162 Balasan ke Peran penting bakteri dalam Bioindustri

  1. Moch.Ony Fahmy N berkata:

    Moch.Ony Fahmy N/125100307111060/Bioindustri kelas S
    KINETIKA PERTUMBUHAN BAKTERI ASAM LAKTAT ISOLAT T5 YANG BERASAL DARI TEMPOYOK
    Bakteri asam laktat(BAL) merupakan salah satu organisme yang memfermentasi bahan panga n melalui fermentasi karbohidrat dan umumnya menghasilkan sejumlah besar asam laktat. Bakteri ini memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap flavour, tekstur, dan masa simpan produk fermentasi. Bakteri asam laktat mempunyai distribusi yang luas dan kemampuan tumbuh pada berbagai substrat organik dan kondisi seperti kondisi asam, basah, suhu rendah, suhu tinggi, kadar garam tinggi, anaerob, sehingga menjadikan bakteri asam laktat sebagai kompetitor yang tangguh di semua sektor pengolahan(Dauly, 1991).

  2. siti fatimatul umaroh berkata:

    SITI FATIMATUL UMAROH
    125100300111038
    BIOINDUSTRI
    KELAS C
    Judul : ISOLASI DAN SKRINING MOLEKULER BAKTERI ASAM LAKTAT PEMBAWA GEN GLUKANSUKRASE DARI MAKANAN DAN MINUMAN MENGANDUNG GULA

    Eksopolisakarida (EPS) mempunyai banyak manfaat dalam industri farmasi, kosmetik, dan makanan. Bakteri asam laktat (BAL) menghasilkan berbagai macam EPS dan mempunyai gen-gen sukrase glukansukrase/glukosiltransferase (gtf) dan fruktansukrase/fruktosiltransferase (ftf) yang berperan dalam produksi EPS. Pada penelitian ini, isolasi dan skrining BAL penghasil EPS (BAL-EPS) dilakukan pada medium agar modifikasi de Mann-Rogosa-Sharpe (MRS) dengan penambahan 10% sukrosa terhadap BAL yang diisolasi dari berbagai makanan dan minuman khas asal sumber lokal yang mengandung gula. Penelitian ini bertujuan memperoleh BAL-EPS beserta skrining molekuler adanya gen gtf maupun identifikasi molekuler galur menggunakan teknik PCR. Sepasang primer degenerate DegFor dan DegRev, dengan sasaran conserved region pada ranah katalitik gen gtf digunakan untuk melacak adanya gen gtf, sedangkan primer LABfw dan LABrv digunakan untuk identifikasi molekuler berdasarkan gen 16S rRNA. Amplikon berukuran kurang lebih 660 pasangan basa (pb) dengan target gen gtf telah diperoleh pada 13 dari 16 galur yang diuji. Hasil PCR untuk identifikasi gen 16S rRNA dan analisis sekuen DNA dengan menggunakan blastn bagi galur positif gtf adalah semua galur teridentifikasi sebagai BAL. BAL yang masih sedikit dilaporkan memproduksi EPS berhasil diperoleh yaitu Weissella. Galur-galur BAL yang diperoleh berpotensi untuk dikembangkan sebagai sumber gen-gen sukrase yang baru maupun produk polimer EPS yang unik.

    sumber : Amarila Malik. MAKARA, SAINS, VOL. 14, NO. 1, APRIL 2010: 63-68
    A Malik, AK Hermawati, M Hestiningtyas… – MAKARA of Science …, 2010 – journal.ui.ac.id
    http://journal.ui.ac.id/science/article/viewFile/467/463

  3. #Peran mikroorganisme sebagai Pembasmi Hama Tanaman
    Banyak bakteri yang hidup sebagai parasit pada jenis organisme saja dan tidak mengganggu atau merugikan organisme jenis lainnya. Sifat mikroorganisme semacam ini dapat dimanfaatkan dalam Bioteknologi pembasmian hama atau dikenal dengan biological control. Contohnya, adalah bakteri hasil rekayasa yang disebut bakteri minumes, merupakan keturunan dari Pseudomonas. Bakteri ini dapat melawan pembentukan es selama musim dingin. Contoh lain adalah penggunan bakteri Bacillus thuringensis yang patogen terhadap ulat hama tanaman. Pengembangan bakteri memberikan banyak keuntungan. Pembasmian ulat hama dengan menggunakan Bacillus thuringensis ternyata tidak menimbulkan dampak negatif kepada lingkungan serta tidak meninggalkan residu.

    Cara lain mengatasi hama tanaman adalah dengan menghambat perkembangbiakan hewan hama. Caranya adalah menyemprotkan feromon insekta pada lahan pertanian. Feromon adalah substansi yang dikeluarkan hewan dan menyebabkan respon pada hewan sejenis seperti respon untuk seksualnya menurun. Akibatnya, populasi hewan hama akan berkurang secara perlahan-lahan.
    #Peran Mikroorganisme dalam Mengatasi Pencemaran
    Salah satu dampak dari peledakan jumlah penduduk dan perkembangan teknologi adalah pencemaran terhadap lingkungan. Sebenarnya, pada batas-batas tertentu lingkungan sekitar kita masih mampu membersihkan dirinya dari segala macam zat pencemar. Namun, kalau jumlahnya sudah melebihi kemampuan lingkungan, maka untuk mengatasinya memerlukan keterlibatan manusia.

    Untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan ini, para pakar telah mencoba merekayasa mikroba untuk mendapatkan strain mikroba yang membantu mengatasi pencemaran, khususnya pencemaran limbah beracun. Apabila konsentrasinya berada di atas ambang batas, maka akan mengancam kelangsungan organisme yang lain. Yang dikembangkan saat ini antara lain, penanganan limbah oleh mikroorganisme yang mampu menghasilkan gas hidrogen. Mikroba tersebut adalah Clostridium butyrium. Dalam hal ini, bakteri akan mencerna dan menguraikan gula serta menghasilkan gas hidrogen. Gas ini dapat digunakan sebagai bahan bakar yang tidak menimbulkan polusi.
    #Peran mikroorganisme sebagai Pemisah Logam dari Bijihnya
    Selama ribuan tahun, penyulingan minyak atau mineral dan memisahkan tembaga dari bijih yang berkualitas rendah dengan proses leaching atau meluluhkan. Pada 1957, berhasil dikembangkan teknik pemisahan tembaga dari bijinya dengan menggunakan jasa bakteri. Bakteri yang dapat memisahkan tembaga dari bijihnya adalah Thiobacillus ferooxidans yang berasal dari hasil oksidasi senyawa anorganik khususnya senyawa besi dan belerang. Bakteri ini termasuk jenis bakteri khemolitotrop atau bakteri pemakan batuan. Bakteri khemolitotrop tumbuh subur pada lingkungan yang miskin senyawa organik, karena mampu mengekstrak karbon langsung dari CO2 di atmosfer.

    Proses pemisahan tembaga dari bijihnya berlangsung sebagai berikut. Bakteri Thiobacillus ferooxidans mengoksidasi senyawa besi belerang (besi sulfida) di sekelilingnya. Proses ini membebaskan sejumlah energi yang digunakan untuk membentuk senyawa yang diperlukannya. Selain energi, proses oksidasi tersebut juga menghasilkan senyawa asam sulfat dan besi sulfat yang dapat menyerang batuan di sekitarnya serta melepaskan logam tembaga dari bijihnya. Jadi, aktivitas Thiobacillus ferooxidans akan mengubah tembaga sulfida yang tidak larut dalam air menjadi tembaga sulfat yang larut dalam air. Pada saat air mengalir melalui bebatuan, senyawa tembaga sulfat (CuSO4) akan ikut terbawa dan lambat laun terkumpul pada kolam berwarna biru cemerlang. Proses pemisahan logam dari bijihnya secara besar-besaran dapat dijelaskan sebagai berikut.

    Bakteri ini secara alami terdapat di dalam larutan peluluh. Penambang tembaga akan menggerus batu pengikat logam atau tembaga dan akan menyimpannya ke dalam lubang tempat buangan. Kemudian, mereka menuangkan larutan asam sulfat ke tempat buangan tersebut. Saat larutan peluruh mengalir melalui dasar tempat buangan, larutan peluluh akan mengandung tembaga sulfat. Selanjutnya, penambang akan menambah logam besi ke dalam larutan peluluh. Tembaga sulfat akan bereaksi dengan besi membentuk besi sulfat yang mampu memisahkan logam tembaga dari bijinya.

    Secara umum, Thiobacillus ferooxidans membebaskan tembaga dari bijih tembaga dengan cara bereaksi dengan besi dan belerang yang melekat pada batuan sehingga batuan mengandung senyawa besi dan belerang, misalnya FeS2. Saat larutan peluluh mengalir melalui batu pengikat bijih, bakteri mengoksidasi ion Fe2+ dan mengubahnya menjadi Fe3+. Unsur belerang yang terdapat dalam senyawa FeS2 dapat bergabung dengan ion H+ dan molekul O2 membentuk asam sulfat (H2SO4). Bijih yang mengandung tembaga dan belerang, misalnya CuS, ion Fe3+ akan mengoksidasi ion Cu+ menjadi tembaga divalen atau Cu2+. Selanjutnya, bergabung dengan ion sulfat (SO4 2-) yang diberikan oleh asam sulfat untuk membentuk CuSO4.

    Dengan cara tersebut, bakteri tersebut mampu menghasilkan tembaga kelas tinggi. Selain itu, bakteri pencuci, seperti Thiobacillus juga dapat digunakan untuk memperoleh logam berkualitas tinggi, seperti emas, galiu, mangan, kadmium, nikel, dan uranium.
    sumber: http://taufiq-punya.blogspot.com/

  4. Riska Alvia Novita berkata:

    transfer gen proteinase inhibitor II pada kedelai melalui vektor Agrobacterium tumefaciens untuk ketahanan terhadap penggerek polong (Etiella zinckenella Tr)
    http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/bi091044.pdf

    Nama : Riska Alvia Novita
    Kelas : N (BIOINDUSTRI)
    NIM : 125100307111049

  5. alifia harwitasari berkata:

    ALIFIA HARWITASARI/125100300111044/ KELAS C
    STATUS PERKEMBANGAN PERBAIKAN SIFAT GENETIK PADI MENGGUNAKAN TRANSFORMASI Agrobacterium tumefaciens
    Pada tanaman padi, secara garis besar ada dua teknik transfer gen yang telah berhasil diterapkan, yaitu transfer gen secara langsung (misalnya dengan senyawa kimia polyethylene glycol (PEG), alat elektroporator, atau penembak DNA), atau secara tidak langsung dengan menggunakan bantuan bakteri tanah Agrobacterium tumefaciens. Kemampuan Agrobacterium tumefaciens dimanfaatkan untuk menyisipkan gen-gen yang berperan dalam sistesis hormone dan opin dihilangkan dan diganti dengan gen bermanfaat untuk perbaikan sifat tanaman. Keberhasilan transformasi Agrobacterium tumefaciens sangat bergantung pada genotif tanaman padi. Hal ini merupakan salah satu keterbatasan penggunaan transformasi Agrobacterium.
    http://biogen.litbang.deptan.go.id/terbitan/pdf/agrobiogen_2_1_2006_36-44.pdf

  6. Deviyanti Anwar berkata:

    Nama: Deviyanti Anwar
    NIM: 125100300111048
    kelas: C
    menurut sumber, beberapa daerah pertanaman kedelai di Indonesia kemampuan kedelai untuk membentuk bintil akar sangat redah walaupun telah diinokulasi oleh inokulan rhizobia yg efektif. untuk mengatasi masalah tersebut, telah dilakukan koleksi Bradyrhizobium dan Sinorhizobium dari beberapa daerah sentra produksi kedelai di Indonesia, yaitu bakteri Bradyrhizobium japonicum, Bradyrhizobium elkanii, Bradyrhizobium liaoningense, dan Sinorhizobium fredii yang berperan penting dalam penghematan penggunaan pupuk nitrogen melalui simbiosisnya dengan tanaman kedelai.

    sumber: http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/buku/pupuk/pupuk6.pdf

  7. WIDI AYU SIGMA PRATIWI 115100300111070 KELAS S berkata:

    WIDI AYU SIGMA PRATIWI
    115100300111070
    KELAS S

    Beberapa bakteri seperti Pseudomas aeruginosa, Acinetobacter calcoaceticus, Arthrobacter sp., Streptomyces viridans, dll menghasilkan senyawa biosurfaktan/bioemulsi yang dapat menyerap berbagai jenis logam berat seperti Cd, Cr, Pb, Cu, dan Zn dari tanah yang terkontaminasi.

  8. iman nur zaman NIM: 115101001111008 KLS C berkata:

    PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA BAKTERI TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN LELE DUMBO (Clarias sp)
    Ikan lele dumbo (Clarias sp.) merupakan komoditas unggulan air tawar yang sangat populer serta mempunyai pasar yang baik. Permintaan pasar akan ikan lele dumbo sekarang ini telah berkembang pesat kenaikan mencapai 18,7 % per tahun, karena ikan lele dumbo mempunyai keunggulan dibanding dengan ikan lele lokal yaitu pertumbuhannya lebih cepat, dapat mencapai ukuran lebih besar dan lebih banyak kandungan telurnya. Teknologi sistem resirkulasi merupakan suatu usaha dalam memperbaiki kualitas air agar tetap sesuai untuk kehidupan ikan. Sistem resirkulasi mempunyai kelemahan yaitu terjadi penumpukan bahan organik yang terdiri dari sisa pakan dan feses. Untuk mngatasi permasalahn tersebut maka perlu ditambahkan bakteri pendegradasi yang diharapkan dapat meminimalisir kandungan bahan organik. Peranan bakteri indigen sebagai bakteri pendegradasi bahan organik dapat memberikan hasil lebih efektif. Penelitian ini merupakan bagian dari rangkaian penelitian yang terdiri dari tiga tahap. Penelitian tahap pertama berupa eksplorasi bakteri indigen pada pemeliharaan benih ikan lele dumbo yang bertujuan untuk mencari jenis spesies bakteri pendegradasi bahan organik yang terdapat dalam pemeliharaan benih ikan lele dumbo dan dari penelitian tahap pertama didapatkan beberapa baketri yaitu Pseudomonas pseudomallei. dengan indeks kesamaan (97,81%) merupakan bakteri lipolitik, bakteri Pseudomonas stutzeri dengan indeks kesamaan (97,81%) merupakan bakteri amilolitik dan bakteri Pseudomonas stutzeri dengan indeks kesamaan (61,21%) merupakan bakteri proteolitik. Penambahan bakteri Pseudomonas pseudomallei dengan indeks kesamaan (97,81%), Pseudomonas stutzeri dengan indeks kesamaan (97,81%) dan Pseudomonas stutzeri dengan indeks kesamaan (61,21%) pada sistem resirkulasi tertutup dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup benih lele dumbo.
    SUMBER: http://fpk.unair.ac.id/backup/administrator/components/com_jresearch/files/publications/14%20Irene.pdf

  9. siti susanti NIM:115101013111003 kls C berkata:

    Siti Susanti NIM: 115101013111003 KELAS:C

    Bakteri Indigenous (Bacillus cereus) adalah bakteri bebas yang dapat mensintesis senyawa nitrogen, gula, dan substansi bioaktif lainnya. Fungsi mukroorganisme tersebut antara lain: penambat nitrogen, pelarut fosfat, dan mikroba pendegradasi selulosa. Melihat penggunaan insektisida memberi banyak dampak negatif terutama bagi lingkungan, muncul gagasan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang terkena polusi herbisida yang menurunkan kualitas lahan pertanian. Salah satu teknologi alternatif untuk tujuan tersebut adalah melalui bioremediasi. Bioremidiasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali. Untuk memperoleh bakteri yang berpotensi sebagai agensia pengendali hayati hama dilakukan isolasi dan karakterisasi bakteri indigenous.
    Beberapa hasil penelitian berbasis bakteri Indigenous merupakan hasil isolasi bakteri yang berasal dari berbagai sedimen atau berbagai perairan. Misalnya, hasil isolasi bakteri yang berasal dari lumpur sungai Siak didapatkan 6 isolat bakteri, isolat bakteri tersebut terdiri dari bakteri Microccocus, bakteri Corynebacterium, bakteri Phenylobacterium,Enhydrobacter,Morrococcus, Flavobacterium. Selain dari sedimen, bakteri Indigenous berasal dari Rumah Pemotongan
    SUMBER :https://docs.google.com/file/d/0B7E1ZbBsqofUR01QS3drTGRhR1U/edit?pli=1

  10. Rizky Amalia Rosyadi berkata:

    Rizky Amalia Rosyadi / 125100300111052 / kelas C

    Kandungan residu obat yang melewati batas maksimum residu (BMR) yang ditetapkan akan menyebabkan daging dan susu tersebut tidak aman dikonsumsi karena dapat menimbulkan
    reaksi alergis, keracunan, resistensi mikroba tertentu atau mengakibatkan gangguan fisiologis pada manusia. Hasil survei di Amerika menunjukkan sekitar 77% responden mengkhawatirkan masalah residu obat-obatan (terutama golongan antibiotik) pada daging ternak (Resurreccion dan Galvez 1999). Beberapa kasus gangguan terhadap resistensi bakteri Campylobacter yang berkaitan dengan masalah residu antibiotik diAmerika Serikat dilaporkan oleh Hurd et al. (2004).

    http://www.pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/p3241054.pdf

  11. Ayu Yuni Afifah berkata:

    Ayu Yuni Afifah / 115100701111007 / Kelas C

    ABSTRAK :
    Dalam penelitian ini digunakan isolat bakteri termofil SW2, dari Pusat Pengolahan Kompos,
    sebagai sumber enzim -amilase ekstrasel. Isolasi enzim dilakukan setelah bakteri tersebut diaktifkan dan dikultur dalam medium yang mengandung pati kentang pada suhu 60C, pH 7,5 selama 39 jam. Enzim -amilase ekstrasel yang diperoleh memiliki keaktifan optimum pada suhu 70C, dan pH 6,0. Enzim ini merupakan -amilase logam karena keaktifan katalitiknya dapat ditingkatkan oleh ion logam, seperti Na+, K+, Mn+ dan Ca2+ serta diinhibisi sangat kuat oleh Zn2+, Fe2+ dan EDTA. Keaktifan enzim ini juga diturunkan oleh adanya senyawa SDS dan urea. Sedangkan efek penyimpanan selama 4 bulan pada suhu kamar dapat menurunkan keaktifan enzim hingga mencapai +50%. Massa molekul enzim kasar ditentukan dengan metode elektroforesis SDS-poliakrilamid dan diperoleh sekitar 180 kDa.

    Berbagai jenis isolat mikroorganisme telah didapatkan dan diketahui memiliki peranan yang
    besar sebagai penghasil enzim yang dapat digunakan dalam suatu industri. Enzim digunakan dalam industri bersifat sangat spesifik dan bekerja sangat efisien, mampu beroperasi pada kondisi lunak, aman dan mudah dikontrol, serta dapat menggantikan bahan kimia yang berbahaya, dan dapat didegradasi secara biologis.

    Enzim mempunyai nilai ekonomi tinggi. Dalam industri pangan, enzim amilase berfungsi
    menyediakan gula hidrolisis pati sehingga dapat dimanfaatkan untuk produksi sirup glukosa
    ataupun sirup fruktosa yang mempunyai tingkat kemanisan tinggi, pembuatan roti, dan makanan bayi. Di industri tekstil enzim amilase digunakan untuk membantu dalam proses penghilangan pati, yang digunakan sebagai perekat untuk melindungi benang saat ditenun agar lentur. Proses ini memerlukan suhu sekitar 70-80C. Mikroorganisme termofil dapat menghasilkan enzim yang tahan terhadap suhu tinggi. Kelebihan pada proses industri yang menggunakan suhu tinggi antara lain dapat meningkatkan laju reaksi kimia termasuk reaksi enzimatis, efisien, dan dapat mengurangi kontaminasi.

    Enzim -amilase adalah enzim ekstrasel yang mengkatalisis reaksi pemotongan ikatan glukosidik 1,4 pada bagian dalam molekul substrat (endoenzim). Secara komersial enzim ini dihasilkan baik oleh bakteri dari genus Bacillus, maupun kapang dari genus Aspergillus dan Rhizopus.2,5. Dalam penelitian ini, sumber penghasil enzim adalah jenis bakteri termofil, yaitu Bacillus SW2 yang diisolasi dari Pusat Pengolahan Kompos, BSD-Tangerang. Enzim hasil isolasi tersebut selanjutnya akan digunakan dalam industri tekstil.

    Alasan utama dari pemanfaatan mikroorganisme adalah untuk menghemat biaya impor
    enzim tersebut. Sel mikroorganisme merupakan sumber penghasil enzim yang sangat potensial
    karena untuk peningkatan produksi enzim dapat dilakukan dengan lebih mudah, misalnya dengan cara pengaturan kondisi lingkungan pertumbuhannya. Penelitan ini meneliti uji karakterisasi enzim kasar hasil pemekatan melalui ultrafiltrasi. Uji keaktifan enzim dilakukan
    terhadap berbagai pengaruh lingkungan seperti suhu, pH, aktivator serta inhibitor enzim.

    sumber : http://www.kimiawan.org/journal/index.php/jki/article/view/5/pdf_21

  12. SYIFA' ROBBANI berkata:

    SYIFA’ ROBBANI/125100301111002/KELAS C
    Sekarang menggunakan bakteri sebagai komponen penting dalam pembuatan produk. Berbagai jenis isolat mikroorganisme telah didapatkan dan diketahui memiliki peranan yang besar sebagai penghasil enzim yang dapat digunakan dalam suatu industri baik produk olahan pangan atau non pangan . Enzim digunakan dalam industri bersifat sangat spesifik dan bekerja sangat efisien, mampu beroperasi pada kondisi lunak, aman dan mudah dikontrol, serta dapat menggantikan bahan kimia yang berbahaya, dan dapat didegradasi secara biologis.Misalnya bakteri tipe I, coliform dan fekal streptococci digunakan sebagai indikator penanganan pangan secara tidak higinis, termasuk keberadaan patogen tertentu.Atau bakteri Streptococcus Lactis asam laktat sebagai fungsi dtarter dalam pembuatan keju dan mentega
    Mikroorganisme industri merupakan organisme yang dipilih secara hati-hati sehingga dapat membuat 1 atau banyak produk.
    http://ejournal.unirow.ac.id/ojs/files/…/2/…/5.%20Dian.pdf
    http://bbalitvet.litbang.deptan.go.id/ind/attachments/152_7.pdf

  13. Arika Hasanah berkata:

    Arika Hasanah / 115100301111009/ Kelas P

    PERANAN BAKTERI ASAM LAKTAT DALAM MENGHAMBAT Listeria monocytogenes PADA BAHAN PANGAN
    bakteri asam laktat mampu berperan dalam menghambat bakteri Listeria monocytogenes pada bahan pangan. Bakteri asam laktat didefinisikan sebagai bakteri yang mampu menghasilkan asam laktat dari sumber karbohidrat tang dapat difermentasi. Bakteri ini juga mempunyai efek pengawetan karena mengandung senyawa penghambat berupa hydrogen peroksida, diasetil, karbondioksida, reuterin dan bakteriosin yang dapat menghambat pertumbuhan berbagai mikroba. Sedangkan bakteri yang dihambat oleh bakteri asam laktat adalah Liseria monocytogenes yang merupakan bakteri patogen penyebab keracunan pangan dan memiliki pengaruh kuat pada industri pangan.
    source :
    http://journal.wima.ac.id/index.php/JTPG/article/view/77/76

  14. Liza Andriani berkata:

    Liza Andriani R / 125100301111027 / N
    SACCHAROMYCES CEREVISIAE, Taksonomi Saccharomyces spp. menurut SANGER
    (2004), sebagai berikut:
    Super Kingdom : Eukaryota
    Phylum : Fungi
    Subphylum : Ascomycota
    Class : Saccharomycetes
    Order : Saccharomycetales
    Family : Saccharomycetaceae
    Genus : Saccharomyces
    Species : Saccharomyces cerevisiae
    Khamir S. cerevisiae dapat dimanfaatkan sebagai probiotik, prebiotik dan imunostimulan dan kegunaan lainnya di dalam meningkatkan produksi ternak. Menurut definisi FULLER (1992) dan KARPINSKA et al. (2001), probiotik adalah imbuhan pakan berbentuk mikroba hidup yang menguntungkan dan mempengaruhi induk semang melalui perbaikan keseimbangan mikroorganisme dalam saluran pencernaan. Sedangkan prebiotik adalah bahan
    makanan yang tidak tercerna dan memberikan keuntungan pada inang melalui simulasi yang selektif terhadap pertumbuhan aktivitas dari satu atau sejumlah bakteri yang terdapat di dalam kolon (ROBERFROID, 2000) . Di bidang peternakan penggunaan probiotik bermanfaat untuk kesehatan, produksi dan pencegahan penyakit . Selanjutnya SOEHARSONO (1994) mengemukakan bahwa mikroba yang termasuk dalam kelompok probiotik bila mempunyai ciri sebagai berikut yaitu : dapat diproduksi dalam skala industri, jika disimpan di lapangan akan stabil dalam jangka waktu yang lama, mikroorganisme harus dapat hidup kembali di dalam saluran pencernaan, dan memberikan manfaat pada induk semang.
    sumber: http://bbalitvet.litbang.deptan.go.id/eng/attachments/152_7.pdf

  15. Panji Wira Manggala berkata:

    Panji Wira Manggala / 125100300111005 / Kelas N

    PERANAN HEMAGLUTININ Staphylococcus aureus DALAM PROSES ADHESI PADA SEL EPITEL AMBING SAPI PERAH

    Staphylococcus aureus (S. aureus) adalah bakteri gram positif yang menghasilkan pigmen kuning, bersifat aerob fakultatif, tidak menghasilkan spora dan tidak motil, umumnya tumbuh berpasangan maupun berkelompok, dengan diameter sekitar 0,8-1,0 µm.S. aureus tumbuh dengan optimum pada suhu 37oC dengan waktu pembelahan 0,47 jam. S. aureus merupakan mikroflora normal manusia. Bakteri ini biasanya terdapat pada saluran pernapasan atas dan kulit. Keberadaan S. aureus pada saluran pernapasan atas dan kulit pada individu jarang menyebabkan penyakit, individu sehat biasanya hanya berperan sebagai karier . Infeksi serius akan terjadi ketika resistensi inang melemah karena adanya perubahan hormon; adanya penyakit, luka, atau perlakuan menggunakan steroid atau obat lain yang memengaruhi imunitas sehingga terjadi pelemahan inang.
    Hasil pemeriksaan terhadap kapasitas adhesi bakteri S. aureus pada epitel ambing sapi menunjukkan bahwa adanya perbedaan kemampuan untuk melekat pada sel epitel ambing sapi. Kemampuan S. aureus yang memiliki hemaglutinin ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan S. aureus yang tidak memiliki hemaglutinin.

    Sumber: jurnal.unsyiah.ac.id/JKH/article/download/564/473

  16. Hana Afifah berkata:

    Hana Afifah
    115100301111011
    Bioindustri Kelas P

    Judul : Penambahan Konsentrasi Bakteri Lactobacillus plantarum
    dan Waktu Perendaman Pada Proses Pembuatan Tempe
    Probiotik

    Tempe merupakan salah satu produk fermentasi tradisional yang cukup terkenal
    dan merupakan sumber protein nabati yang sangat potensial bagi penduduk khususnya
    Indonesia. Pada pembuatan tempe selama ini identik dengan keberadaan bakteri
    kontaminan yang menyebabkan penyakit. Kondisi ini yang melatarbelakangi
    dilakukannya penelitian terhadap pembuatan tempe probiotik yang tidak mengandung
    bakteri kontaminan yang bersifat patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
    kombinasi waktu perendaman dan penambahan konsentrasi Lactobacillus plantarum
    yang terbaik pada proses perendaman kedelai untuk menghasilkan tempe probiotik yang
    rendah kontaminan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental
    dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 2 faktor dan masing-masing perlakuan
    diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama yaitu konsentrasi bakteri Lactobacillus
    plantarum (107, 108, dan 109 CFU/ml) sedangkan faktor kedua yaitu waktu perendaman
    (3,6, dan 9 jam). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2009 sampai dengan Maret
    2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan konsentrasi bakteri
    Lactobacillus plantarum109 CFU/ml dan waktu perendaman 9 jam menghasilkan total
    Bakteri Asam Laktat 2,99.107 CFU/ml dan tidak mempunyai bakteri kontaminan (E.coli)
    dan produk yang dihasilkan merupakan tempe probiotik yang mempunyai 3,2.106 CFU/ml
    Bakteri Asam Laktat. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dengan kombinasi waktu
    perendaman 9 jam dan penambahan konsentrasi Lactobacillus plantarum 109 CFU/ml
    pada proses perendaman kedelai yang tidak mengandung bakteri E. coli, demikian juga
    tempe probiotik yang menghasilkan yang tidak mengandung bakteri kontaminan (E. coli).

    Sumber :
    http://elisaindarti.staff.ub.ac.id/files/2013/05/Jurnal-Atika-Rizky.pdf

  17. Edu Bima Wisnu Wardana S berkata:

    Edu Bima Wisnu Wardana S
    115100300111051
    Bioindustri Kelas C

    Dalam rangka untuk mencegah kontaminasi aflatoksin dalam produksi kecap , saus kedelai Indonesia, kultur starter dibuat menggunakan putih spored mutan K – 1A ketegangan yang disebabkan dari koji cetakan aflatoxinnegative , Aspergills sp . K – 1 dan diterapkan koji proses pembuatan kecap . Jumlah spora dikembangkan pada nasi diinokulasi dengan K – 1A tidak begitu berbeda dari K – 1 . Kemampuan perkecambahan K – 1A setelah menyimpan pada 30 º C dan 75 % RH selama 3 minggu juga tidak begitu berbeda dari K – 1 . Sementara proses pembuatan kecap koji mengambil 9 hari dengan metode konvensional ( tanpa inokulum ) , penggunaan kultur starter dipersingkat proses untuk 3 hari pada suhu kamar . Karena diinokulasi galur K – 1A dikembangkan putih konidia ( spora ) selama inkubasi , mutan bisa dibedakan dari aspergilli terkontaminasi oleh penampilan mereka pada pelat agar . Jumlah ( cfu / g) aspergilli terkontaminasi dalam kecap koji dari lingkungan menurun menjadi 1/10 dengan menggunakan kultur starter . The kecap tumbuk siap dengan kecap koji diinokulasi dengan starter terkandung nitrogen formol tinggi dan larut dalam air dibandingkan nitrogen dipersiapkan dengan koji tanpa pemula apapun. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan mutan putih spored sebagai starter tidak hanya berkontribusi pada pencegahan kontaminasi aflatoksin tetapi juga meningkatkan proses fermentasi kecap konvensional .

    Sumber : http://biologi.lipi.go.id/bio_bidang/mikro_indonesia/publikasi.php

  18. Penambahan bakteri tang penting dalam fermentasi, terutama fermentasi kakao yaitu bakteri Saccharomyces Cerevisiae, Lactobacillus Lactis dan Acetobacter Aceti dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan kimiawi substrat selama fermentasi karena perubahan ekologi mikroflora di dalamnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya penelitian jurnal dibawah ini :

    PENGARUH PENAMBAHAN INOKULUM CAMPURAN TERHADAP
    PERUBAHAN KIMIA DAN MIKROBIOLOGI
    SELAMA FERMENTASI COKLAT
    [Effect of the Addition of Mixed Inoculums on the Chemical and
    Microbiological Changes During Cocoa Fermentation]
    Jurnal Teknologi Industri dan Hasil Pertanian Volume 13, No. 2, September 2008

    Fermentasi pada kakao bertujuan untuk meniadakan daya hidup biji, kemudian menjadikannya selaput berdaging (pulp) yang mudah dihilangkan dari kulit biji serta memberikan waktu untuk terjadinya proses yang membentuk warna, rasa dan aroma. Sehingga fermentasi menetukan mutu dari produk akhir. Dimana penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penambahan inokulum yang terdiri dari Saccharomyces Cerevisiae, Acetobacter Aceti dan Lactobacillus Lactis pada proses fermentasi kakao terhadap ekologi pertumbuhan mikroba dan perubahan biokimiawi dalam pupl selama fermentasi. Pertumbuhan yeast, bakteri asam laktat dan bakteri asam asetat di dalam pulp berperan dalam perubahan biokimiawi selama fermentasi kakao.

    Pada awal 24 jam fermentasi yeast (khamir) mendominasi fermentasi. Saccharomyces Cerevisiae dan Candida Tropicalis merupakan dominan yeast selama fermentasi kakao hal ini dapat dilihat dari tingkat survival yang tinggi. Tetapi setelah 24 jam tingkat survivalnya menurun dan digantikan oleh pertumbuhan bakteri asam laktat. Jenis bakteri asam laktat Lactobacillus Cellobiosus
    dominan sampai 48jam. Kemudian saat pulp mulai mencair maka oksigen mengalir ke dalam kotak fermentasi, sehingga menyebabkan bakteri asam asetat mendominasi fermentasi dan memproduksi asam asetat. Acetobacter Pasteurianus merupakan golongan bakteri asam asetat yang paling lama bertahan hidup dibandingkan dengan Acetobacter Aceti yang aktif pada 24 jam pertama fermentasi.

    Dari hasil penelitian dapat diketahui apabila yeast mempunyai peran penting dalam fermentasi kakao dalam hal adalah dengan menghasilkan alkohol dalam kondisi oksigen yang terbatas dan kadar gula tinggi, yang selanjutnya alkohol dikonversi menjadi asam asetat. Penambahan inokulum yang terdiri dari Saccharomyces Cerevisiae, Lactobacillus Lactis dan Acetobacter Aceti mempengaruhi perubahan kimiawi substrat selama fermentasi karena perubahan ekologi mikroflora di dalamnya. Penambahan dengan inokulum campuran pada awal fermentasi mempercepat proses fermentasi pulp dan kematian biji. Penambahan inokulum secara bertahap menyebabkan kenaikan suhu dini dan mengakibatkan fermentasi kurang sempurna.
    sumber : http://jurnal.fp.unila.ac.id/index.php/JTHP/article/viewFile/69/77

    AULIA BAYU YUSHILA
    125100318113016
    KELAS UB KAMPUS IV KEDIRI

  19. Himamy Ainun S / 115100701111009 / Kelas S

    Kemampuan proses biodegradasi anaerob sangat tergantung kepada sumber bakteri dan proses aklimatisasi. Berdasarkan pertimbangan ini kajian dilakukan dengan meninjau pengaruh sumber bibit yang digunakan dan jenis substrat yang diberikan. Sumber bibit berasal dari lumpur biomassa bioreaktor berpenyekat anaerob dan lumpur pencerna anaerob, sedangkan jenis substrat yang digunakan antara lain limbah cair yang mengandung karbohidrat, protein, minyak-lemak. Penelitian ini dilakukan di dalam bioreaktor anaerob dengan volume 5 L pada kondisi operasi suhu 350C dan pH awal 6. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber bakteri starter yang berasal dari lumpur biomassa bioreaktor berpenyekat anaerob mampu mendegradasi limbah cair yang mengandung karbohidrat, protein, minyak-lemak dibandingkan lumpur biomassa yang berasal dari pencerna anaerob. Kemampuan ini ditunjukkan oleh nilai kosentrasi biomassa dan produksi biogas yang relatif tinggi serta resisten terhadap substrat yang diberikan. Dengan demikian, bakteri anaerob yang berasal dari lumpur bioreaktor berpenyekat anaerob dapat digunakan pada proses pengolahan limbah cair yang mengandung karbohidrat, protein, minyak-lemak.

    Sumber : STUDI KOMPERATIF SUMBER DAN PROSES AKLIMATISASI BAKTERI ANAEROB PADA LIMBAH CAIR YANG MENGANDUNG KARBOHIDRAT, PROTEIN DAN MINYAK-LEMAK. 2004. Vol 3, No 1 Jurnal Sains dan Teknologi. http://jst.eng.unri.ac.id/index.php/jst/article/view/68

    • Hapiz Maulana berkata:

      mas, mba.
      saya butuh jurnal “STUDI KOMPERATIF SUMBER DAN PROSES AKLIMATISASI BAKTERI ANAEROB PADA LIMBAH CAIR YANG MENGANDUNG KARBOHIDRAT, PROTEIN DAN MINYAK-LEMAK. 2004. Vol 3, No 1 Jurnal Sains dan Teknologi”
      Tapi sekarang linknya sudah tidak bisa dibuka lagi.
      jika saudara punya tolong kirimi saya ya:
      hapiz.maulana@yahoo.co.id
      terima kasih

  20. AJENG KRISNAWANTI berkata:

    AJENG KRISNAWANTI
    12510307111091
    KELAS C BU SASA
    Beberapa pemanfatan bakteri mikroorganisme dalam pertumbuhan kacang-kacangan pada kondisi hidropolik.
    SUMBER :http://www.hayati.itb.ac.id/artikel/fitohormon_jurnal.permi.pdf

  21. Siti vaulatifa berkata:

    Siti vaulatifa
    125100307111013
    Kelas c BU SASA

    PEMANFAATAN MIKROORGANISME DI BIDANG PANGAN BERBASIS BIOTEKNOLOGI KONVENSIONAL
    SUMBER : http://aguskrisnoblog.wordpress.com/2011/12/26/pemanfaatan-mikroorganisme-di-bidang-pangan-berbasis-bioteknologi-konvensional/

  22. M.Rizki.payoga berkata:

    # Uji coba penggunaan Inokulum tempe dari kapang rhizopus orizae dengan Substrat tepung beras dan ubi kayu pada unit reproduksi tempe sanan kodya malang

    Rhizopus termasuk dalam Zygomycota yang sering dimanfaatkan dalam pembuatan tempe dari proses fermentasi kacang kedelai, karena Rhizopus yang menghasilkan enzim fitase yang memecah fitat membuat komponen makro pada kedelai dipecah menjadi komponen mikro sehingga tempe lebih mudah dicerna dan zat gizinya lebih mudah terserap tubuh,Fungi ini juga dapat memfermentasi substrat lain, memproduksi enzim, dan mengolah limbah. Salah satu enzim yang diproduksi tersebut adalah dari golongan protease.
    Nama : M.Rizki.Prayoga
    Nim : 125100307111048
    Kelas : N

  23. Desy Himmatul Izze \ 115101013111002 \ S berkata:

    Bakteri Hidrokarbonoklastik : Biodegradasi Hidrokarbon Minyak Bumi Skala Laboratorium .
    Mikroorganisme yang dapat hidup dan berperan dalam penguraian hidrokarbon adalah bakteri, sedangkan kehadiran mikroorganisme lain yang tidak terlalu dominan tetapi cukup berperan yaitu jamur, ragi, alga, dan aktinomisetes (Chater dan Somerville, 1978).
    Senyawa hidrokarbon dalam minyak bumi merupakan sumber karbon bagi pertumbuhan mikroorganisme tertentu, sedangkan senyawa non-hidrokarbon merupakan nutrisi pelengkap yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya. Melalui mekanisme degradasi hidrokarbon yang khas, sumber karbon tersebut dapat dimanfaatkan untuk melangsungkan proses metabolisme dan perkembangbiakannya. Dari uraian di atas, Davis (1967) menyebutkan bahwa bakteri yang memiliki kemampuan mendegradasi senyawa hidrokarbon untuk keperlukan metabolisme dan perkembangbiakannya disebut kelompok bakteri hidrokarbonoklastik.
    Sumber : http://jurnal.unej.ac.id/index.php/JID/article/download/125/95.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s